1st Impression: Sisipan Konten LGBT (Alus) Pada Film Beauty and The Beast Live Action

Gara-gara Disney akhir-akhir ini makin suka gaje, hari ini pas nonton Beauty and The Beast Live Action, selain tersihir oleh kemegahan visual, tata musik dan olah vokal para pemainnya, kami malah sibuk ngitungin mana aja adegan yang sengaja disisipi konten LGBT. Dan setiap nemu kami berseru heboh kaya dapat jackpot *penonton dodol*. Seenggaknya akhirnya tahu kalau artikel-artikel tersebut memang bukan Hoax.

Jadi apa aja konten LGBTnya? Implisit sekali, kok. Tapi cukup kentara dan tersebar di sepanjang film. Hanya saja memang tak diwujudkan dalam adegan seksual (UNTUNGNYA!).

Here are the lists of those kind of contents, buat yang penasaran dan masih menimbang-nimbang apakah mau nonton atau tidak, ataukah mau bawa anak atau tidak pas nonton:

1. Di pertengahan adegan awal film ketika Belle berjalan menyusuri desa sambil membawa buku untuk dikembalikan ke perpustakaan, gadis ini melewati seorang lelaki pedagang yang sedang bertransaksi dengan seorang pembeli wanita sambil flirting. Lupa dia dagang apaan.

Kue, tepung atau buah kali ya?

Seingatku pedagang ini juga berkulit hitam.

Kedua orang ini bernyanyi bersahut-sahutan sambil terkikik genit. Tiba-tiba perempuan pembeli itu melirik ke samping bawah sang pedagang yang tengah menggodanya dengan tatapan khawatir, sembari bernyanyi, “That is your wife.” (Lupa lirik tepatnya. Yang jelas dia mau ngasih isyarat ke si pedagang kalau “istrinya” sudah ada di samping. Jadi acara flirtingnya udahan dulu, yak).

Adegan ini persis seperti adegan kartunnya. Tapi saat sudah siap-siap tertawa menanti “adegan suami digebuk istri” seperti pada kartun, yang ada kami malah terhenyak.

WHY?

Karena yang kemudian muncul bukan seorang perempuan, tapi seorang lelaki jantan (nggak feminin) dengan rambut kriting panjang. Dia juga nggak ngegebuk “suaminya”, melainkan hanya menggebrakkan barang dagangannya ke gerobak sambil menyorotkan “deadly laser-eye” kepada “suaminya”.

Aku dan temanku pun langsung berseru serempak,

“NHA? IKU BOJONE?!”

Kaget juga karena baru menit-menit awal konten LGBTnya sudah keluar. Kirain nunggu detik-detik terakhir film doang seperti bocoran dari artikel di net.

2. Ketika bocoran artikel memberitakan Le Fou digambarkan menyimpan hasrat mendalam kepada Gaston, hal itu benar-benar tampak jelas di sepanjang film. Dari gestur Le Fou, ekspresi wajah yang sedikit genit, memelas, terpana, dan tampak menggoda Gaston, sampai ke celetukan dan aksi-aksinya. Misalnya:

a. Waktu Gaston bilang kepingin punya istri

Trio cewek centil langsung bereaksi dengan mendekati pria itu, Le Fou langsung agak irritated. Beberapa kali dia mengibaskan tangannya sekilas kepada trio itu seperti gerakan mengusir. Tapi dia agak ragu saat melakukannya, karena kemudian ketika Gaston terlalu fokus ke Belle, Le Fou berusaha mengalihkan perhatian cowok itu ke arah trio centil kembali. Seolah ia ragu apakah ingin “menyeret” Gaston menjadi sejenis dengannya, atau membiarkannya lebih baik bersama gadis-gadis biasa seperti trio centil.

Baca juga:  Fakta Beauty and The Beast 2017

b. Waktu Gaston ditolak Belle

kalau ga salah Le Fou bilang, “Kamu nggak butuh dia karena ada kami.” Yang dimaksud ‘kami’ ini kalau dilihat dari gestur dan reaksi tawa penonton kayaknya ya dia sendiri.
Juga ada bagian waktu dia ngomong dengan sinis kepada trio centil, “Kalian nggak bakalan bisa dapetin Gaston!”

c. Waktu Gaston bete di kedai bir

Le Fou menghibur sahabatnya dengan menyanyikan lagu Gaston. Ia juga memijat leher cowok itu. Dan Gaston langsung merem-merem dengan ekspresi keenakan. Adegan ini mungkin gak akan menimbulkan interpretasi macam-macam, seandainya Disney tidak mendeklarasikan secara terang-terangan dukungannya terhadap LGBT melalui film ini.

Pada adegan ini, “pemujaan” Le Fou terhadap Gaston terlihat semakin kentara. Apalagi saat ia menyanyikan lirik yang memuja-muji keperkasaan, maskulinitas, dan fisik Gaston. Kalau di film kartun, hal ini nggak menyiratkan apa-apa. Tapi di live action, efeknya jadi dobel karena ekspresi dan gestur Le Fou yang centil-centil gimana gitu pas nyanyiinnya.

d. Masih adegan di kedai bir.

Ketika Le Fou berusaha mengajak Gaston bangkit dan menari, kedua cowok ini berpelukan dengan posisi Gaston di belakang Le Fou. Kedua tangan kekar Gaston menyilang di leher Le Fou, dan dipegangi oleh Le Fou sendiri.

Le Fou memejamkan mata dan tampak menikmati pelukan itu. Posisinya sendiri memang seperti posisi lelaki memeluk “kekasih perempuannya”, sih.
Gaston kemudian nyadar betapa awkwardnya posisi itu. Le Fou nyeletuk polos, “Too much, ya?” Dan Gaston dengan wajah menahan jengkel menggeram, “Yep.” Dan pelukan pun berakhir.

Yang berikut-berikutnya tidak terlihat kentara atau mungkin terlewat olehku. Semakin film mendekati klimaks dan akhir, Le Fou mulai menampakkan ekspresi takut setelah menyaksikan kekejaman Gaston berturut-turut.

Kesetiaannya pada Gaston tampak goyah. Meski digambarkan sebagai “gay”, aku lebih menyukai karakter Le Fou yang ditampilkan lebih manusiawi di film ini. Ia tak hanya berperan sebagai side-kick tanpa otak yang mendukung main villain tanpa otak.

Le Fou di live action lebih menggunakan nalarnya, meski berulang kali pikirannya berkabut karena “pemujaannya” terhadap Gaston. Singkatnya aku miris karena Le Fou diperlihatkan sebagai tokoh gay (yang bikin film ini dikecam di mana-mana), tapi dari segi kemanusiaan aku menyukai perubahan sikap Le Fou dan keberaniannya berpindah posisi di detik-detik mendekati akhir cerita.

Hwell…

3. Saat menyanyikan lagu “Gaston” di kedai bir, Le Fou duduk di atas bar dengan gaya centil di tengah tiga orang lelaki yang sedang minum bir. Ia lalu menyanyikan lirik yang merujuk kepada nama ketiga lelaki tersebut: “You can ask any Tom, Dick or Stanley. And they’ll tell you whose team they prefer to be on.”

Baca juga:  Beauty And The Beast Dari Masa Ke Masa

Nah.

Ternyata salah satu dari tiga lelaki ini kemungkinan memiliki kecenderungan sebagai transgender atau gay-bottom. Ketiga orang ini muncul lagi dalam adegan “perang di kastil” dan dikerjai oleh tokoh “Lemari Baju” yang kemudian melilit dan mendandani mereka dengan gaun pesta perempuan.

Dalam versi kartun, begitu menyadari “baju barunya” ketiganya langsung menjerit histeris dengan norak dan kabur keluar kastil. Sedangkan, pada versi live action, yang menjerit norak cuma dua orang. Satu orang yang tersisa menyeringai bahagia ke arah kamera saat memakai gaun itu.

Dan “kebetulan” momen itu bertepatan dengan nyanyian si Lemari Baju “let it go, let it go” yang terkesan seolah ia mendukung lelaki itu menyadari orientasi seksualnya yang transgender.

Dan again, cowok bergaun ini muncul lagi di dansa akhir film. Dengan memakai pakaian pesta lelaki, bukan gaun. Inilah adegan Le Fou yang banyak dihebohkan di artikel. Awalnya Le Fou dan cowok ini berdansa dengan cewek, begitu pasangan dansa dirotasi, eh mereka malah berpasangan gitu. What’s this? “Hadiah” atas keberanian Le Fou menentang Gaston?

After Thought.

Di luar konten yang menjurus pada dukungan ke LGBT, film ini adalah hasil karya yang sangat magical dan enchanting. Dari awal sampai akhir aku, temanku, dan adikku merasa seperti ditarik ke nostalgia masa kecil ketika kami baru saja mengenal keindahan visual kartun Beauty and The Beast versi 2D.

Semua adegan versi kartun dipindahkan dengan sempurna di versi live action, berikut dengan banyak detail tambahan di sana-sini. Kami merasa tersihir oleh pesona visual, tata musik dan tata suara film ini hingga pertunjukan berakhir dan kami harus melangkahkan kaki menuruni tangga bioskop.

Ada banyak tambahan berguna dalam film live actionnya, misalnya penekanan bahwa Belle hidup di tengah masyarakat yang mayoritas buta huruf, konsep maskulinitas dan femininitas yang kelewat over dan kuno pada masa itu, jeritan hati Belle yang menyuarakan girl-power, analisis penyebab mengapa sang Pangeran bisa menjadi pribadi sekejam itu, hubungan antara orang-orang desa dan penghuni istana yang dibuat lebih lekat dan jelas, kisah tragedi di balik kematian ibu Belle, serta tambahan talisman berupa buku ajaib yang bisa mengantarkan orang yang menyentuhnya ke semua tempat yang ia inginkan dengan bantuan imajinasi. Semua itu berfungsi memperdalam cerita dan memang lumayan berhasil.

Namun, ada juga tambahan yang buatku nggak terlalu signifikan, yaitu konten LGBT yang seolah dipaksakan masuk seadanya.

Gimana ya… Hmmm… gerakan LGBT didukung sedemikian rupa seperti ini berarti mereka memang “butuh banget” dukungan, kan?

Kalau melihat dari beberapa kasus individu yang pernah kubaca di berbagai media, kebanyakan orang yang kebingungan dengan orientasi seksualnya tidak mendapatkan pertolongan dari lingkugan sekitar. Tapi malah ditindas, diejek, diinjak-injak harga dirinya. Padahal, mungkin dia belum melakukan perbuatan homoseksual secara nyata.

Baca juga:  Fairy Tales BUKAN Cerita Untuk Anak-Anak!

Baru merasakan ketertarikan atau getaran yang ia rasa seharusnya tidak ada, atau memperlihatkan perilaku yang dirasa kurang maskulin atau kurang feminin.

Yang masih bingung ini biasanya disebut SSA (Same Sex Attraction) atau dalam bahasa Indonesianya adalah SSJ (Suka Sesama Jenis).

Dalam keadaan “babak belur” begitu, biasanya siapa yang akan mengulurkan tangan kepada mereka? Ya para pelaku LGBT, aktivis LGBT, sampai organisasi LGBT itu sendiri, lah! Terus ketika mereka merasakan kenyamanan karena diterima “apa adanya”, kita bisa seenaknya maki-maki mereka gitu?

Buatku para heteroseksual pun bertanggung jawab terhadap maraknya fenomena homoseksual ini. Ada berapa banyak “korban” atau “penderita” yang sebenarnya bisa ditolong ketika gejala yang mereka rasakan baru di tahap-tahap awal? Tapi yang mereka dapatkan malah stigma, penolakan, bahkan penindasan. Kumaksud dengan “penderita” di sini bukan berarti menderita “penyakit”, tapi lebih ke menderita tekanan batin.

Dalam hal ini karakter Le Fou yang inferior bisa mengekspresikan kekaguman kepada Gaston sampai kebablasan jadi suka beneran itu mungkin karena pada diri Gastonlah ia merasa mendapatkan “perlindungan”, “role-model”, sekaligus “rasa aman”. Meski pada akhirnya ia sadar bahwa pemujaan Gaston sendiri pada konsep maskulinitas dan power menjadi terlalu berlebihan hingga mengubah “sosok pahlawan” menjadi “monster”.

Le Fou dan berbagai karakter berorientasi seksual LGBT dalam film ini adalah potret mereka yang mungkin saja ada di sekitar kita tanpa pernah terdeteksi. Mereka pun hidup, punya kehidupan, dan menjalani kehidupan sebagai manusia.

Dan selayaknya sebagai makhluk hidup mereka juga butuh kasih sayang dan cinta seperti kita. Jika mereka tak bisa mendapatkan pemenuhan kebutuhan afeksi dari lingkungan heteroseksual, maka bisa ditebak kan akhirnya mereka bakal mencari cinta ke mana?

Karena itulah, LSM Peduli Sahabat yang diinisiasi oleh Sinyo Egie beserta kawan-kawan profesionalnya dari berbagai bidang menyediakan alternatif solusi bagi fenomena ini. Motto Peduli Sahabat adalah “Kami ada bukan untuk mencaci, melainkan mendampingi”. Dan yang kami dampingi tentu saja para SSA atau LGBT yang ingin “kembali ke fitrahnya”.

Jika kita jengah pada tingkah pelaku industri seperti Disney yang terang-terangan mendukung LGBT seperti ini, lalu sekali lagi tindakan atau solusi macam apa yang bisa kita tawarkan untuk memperbaiki keadaan?

Setidaknya jika tidak bisa memperbaiki keadaan ya jangan memperparah keadaan. Atau bisa juga kondisi ini ditafsirkan sebagai pertanda sudah saatnya Disney memiliki pesaing yang mungkin bisa lebih diandalkan dalam mengemban pesan moral untuk disebarkan pada anak-anak di seluruh dunia.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang Peduli Sahabat, klik saja tautan di bawah gambar ini:



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares