Apa Itu Game Development Life Cycle?

Game Development Life Cycle (GDLC) adalah tahapan-tahapan yang dilakukan secara sistematis untuk membangun sebuah game (permainan digital) yang umumnya terdiri dari 6 fase utama yaitu Inisialisasi, Pra-Produksi, Produksi, Testing (Pengujian), Rilis versi Beta dan Rilis versi lengkap. Rangkaian GDLC terkadang disederhanakan menjadi 3 fase utama yaitu Idea/Concept, Development, dan Deployment.

Dalam fase Idea/Concept, tim developer akan merumuskan ide-ide dasar terkait latar belakang pembangunan sebuah game, cerita utama, spesifikasi karakter, genre game, jenis art yang digunakan, platform yang akan dituju, dimensi game yang akan dibuat sampai skema monetisasi game yang akan digunakan (jika ada). Biasanya, output dari fase ini adalah Game Document Design (GDD) yang akan menjadi acuan utama dalam proses pengembangan selanjutnya.

Sementara dalam fase Development, perumusan lebih tertuju pada penetapan jadwal pengembangan game, penentuan tim yang terlibat serta tenggat waktu yang akan digunakan dalam fase pembangunan yang sudah memasukkan unsur pengujian dan penetapan tanggal rilis beta. Fase terakhir yaitu Deployment lebih diarahkan pada teknis publikasi game pada platform yang dituju, termasuk skema persiapan patch jika game yang dihasilkan memiliki bug atau mengalami gangguan teknis terkait perbedaan environment platform yang dituju.

Apa Itu Game Development Life Cycle

Dari ketiga fase tersebut, fase Development merupakan fase yang paling penting. Pada fase ini, seluruh hasil analisis pada GDD akan diterjemahkan ke dalam bentuk program/aplikasi game menggunakan Game Engine. Dalam hal ini, Game Engine bisa didefinisikan sebagai sebuah perangkat lunak yang dirancang secara khusus untuk membuat sebuah game. Game engine umumnya mengenkapsulasi dua fungsi dasar yang berkaitan dengan Asset (gambar, suara, dan film) dan Logic (fungsi-fungsi interaksi).

Perkembangan Game Engine

Di awal tahun 80an, hampir seluruh game dibangun menggunakan kode pemrograman tingkat menengah seperti C. Seluruh logika interaksi pada game disusun menggunakan logika pemrograman yang spesifik untuk satu judul game. Sehingga untuk membangun dua buah judul game yang berbeda, akan dibutuhkan dua kegiatan yang sama dan berulang. Ribet kan?

Hal inilah yang kemudian dijembatani oleh para vendor software yang mengeluarkan produk berupa library/kumpulan fungsi yang dapat mempercepat siklus pengembangan sebuah game dengan merangkum mekanisme-mekanisme dasar pada game yang populer. Produk ini pada awalnya disebut dengan Middleware yang didefinisikan sebagai kumpulan fungsi-fungsi khusus yang dicangkokkan ke dalam suatu bahasa pemrograman utama.

Memasuki tahun 90an, jumlah Middleware untuk pembuatan game meningkat pesat. Software grafis pengolah citra Photoshop yang sebenarnya independen, juga terpaksa ‘turun derajat’ menjadi Middleware jika dimasukkan ke dalam konsep pengembangan game. Hal yang sama berlaku untuk software grafik 3D seperti 3Dmax atau Blender yang bisa digunakan untuk pembuatan level atau ‘dunia’ pada game. Beberapa cikal bakal Game Engine yang masih berstatus sebagai Middleware pada era itu adalah Ogre3D, Irrlicht, dan TrueVision.

Siklus pengembangan game yang bergerak sangat dinamis dan jumlah keterkaitan Middleware yang terlalu banyak membuat beberapa vendor mulai memikirkan teknis pembangunan game yang lebih efektif dan efisien. Fokus utama pengembangan game engine ini berfokus pada pembuatan modul-modul standar untuk mekanisme game standar dengan tetap menyiapkan mekanisme untuk melakukan modifikasi unik pada sebuah game.

Era 2000an bisa dianggap sebagai milestone evolusi Game Engine. Jika sebelumnya pengembangan sebuah game masih terbatas pada penggunaan sebuah bahasa pemrograman dan compiler tertentu, kini sebuah Game Engine dapat dijalankan secara independen dengan Integrated Development Environment (IDE) sendiri. Dengan kata lain, Game Engine tidak lagi harus tergantung dengan software development seperti Delphi atau Ms. Visual C++.

Game Engine di era millenium rata-rata tersebut telah dilengkapi dengan world editor, code editor dan compiler sendiri. Namun sayangnya, harga Game Engine masih relatif mahal dan yang bisa menggunakannya hanyalah perusahaan game kelas menengah ke atas. Tahun 2009 bisa dibilang sebagai tahun evolusi di dunia Game Engine. Kenapa? Karena pada tahun itulah Unity 3D dilahirkan. Saya ingat saat-saat pertama kali melihat kehebatan Unity dalam memangkas puluhan fungsi pembanguan game yang semula harus diketik sampai berdarah-darah.

Asa nyeri hate euy.

Anyway, GDLC sebenarnya merupakan turunan dari Software Development Life Cycle (SDLC) standar yang terkenal dengan metode Waterfall nya (sebuah metode-sempurna-tapi-nggak-mungkin-dipake-dalam-kenyataan-hidup-ini) yang terdiri 5 tahap yaitu Perencanaan, Analisis, Perancangan, Implementasi, dan Pengujian. Sekian penjelasan singkat seputar GDLC. Semoga Bermanfaat.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares