BIAF 2017: Sebuah Catatan Lieur Seorang Dosen Animasi

Ada yang berbeda dengan Baros International Animation Festival (BIAF) tahun ini. Mulai dari tema yang berbeda, bentuk penataan panggung yang berbeda, sampai para narasumber yang juga berbeda. Namun perbedaan besar mungkin terletak dari skema profit sharing yang diberlakukan untuk para exhibitor serta konsep master class dari para narasumber  profesional yang berbayar. Memang budget penyelenggaran BIAF tahun ini mengalami pemotongan sampai 70%. Alhasil banyak fasilitas dan promosi yang tidak dapat dieksekusi dengan maksimal. Di satu sisi, hal ini memang mengecewakan. Tapi di sisi lain, mungkin ini adalah jalan awal bagi industri kreatif, khususnya animasi, untuk berbenah dan mandiri dari segi pendanaan.

Okelah, kalimat terakhir saya itu mungkin akan langsung dibully oleh para pemerhati animasi yang sangat sensitif terhadap budget. Kenapa? Jika kita melihat sedikit ke negara tetangga, di India misalnya. industri animasi dan visual effect-nya tumbuh sebesar 16% per 2016 atau setara dengan INR 59.5 milyar. INR itu Indian Rupee, 1 INR itu sekitar 200 rupiah. Jadi totalnya berapa? Itung sendiri ajalah. Sementara Malaysia, yang konon katanya akan menjadi regional hub Asia Tenggara telah sukses mendapatkan investasi untuk industri multimedia (termasuk game) sebesar RM470 juta. Dengan 1 RM sekitar 3000 rupiah anda bisa hitung sendiri berapa investasi yang mereka dapatkan. Dan dengan nilai investasi ‘cuma segitu’ estimasi value industri kreatif Malaysia adalah sekitar RM10 milyar. Ini duit semua loh. Yah, campur daun lah dikit.

Yang paling gila adalah Cina. Karena mereka sadar dengan potensi industri animasi, khususnya untuk konten global, tapi mereka nggak cukup tangguh untuk membuat film animasi yang berkualitas, jadi mereka joinan sajalah sama olang. Lo olang oe wayal. Dan yang beruntung adalah Blue Zoo sebuah Animation Studio di UK yang kejatuhan duren mendapatkan investasi sebesar $92 juta. Berapa 1$ sekarang? Cek sendiri ajalah ya.

Yang ingin saya coba sampaikan saat ini industri animasi merupakan sebuah industri global yang berpotensi besar untuk menarik minat investor untuk menanamkan dananya. Bukankah tujuan BIAF sendiri sebenarnya, selain untuk pajang karya anak bangsa, adalah untuk mempertemukan antara para talent animasi dan calon investor? Skemanya sih sudah benar. Tapi apakah tujuan itu tercapai? Mungkin belum. Why? Karena ngomongin industri animasi di Indonesia kayak ngomongin telur sama ayam.

Duluan mana: Investor ngasih duit ke sebuah studio supaya studio itu bisa menghasilkan karya global yang fantastis dan mendapatkan revenue gede, atau nungguin ada sebuah studio yang bisa menghasilkan karya global fantastis dan mendapatkan revenue gede baru ada investor yang tertarik untuk ngasih investasi? Dua pilihan itu sama-sama berisiko. Di pilihan pertama, kalau investasi dikeluarin tapi ternyata hasil animasinya malah anjlok kumaha? Sementara dipilihan kedua, kalau studio disuruh mandiri tapi keburu bangkrut duluan sehingga film teu jadi-jadi kumaha?

Teuing ah lieur!

Mungkin permasalahan klise ini yang akhirnya membuat jago-jago animasi kita lebih banyak memilih untuk berkiprah di luar nagreg. Karena berbicara menghidupkan industri animasi berarti berbicara soal visi. Dan ngomongin visi itu nggak cukup 1-2-tahun-filmnya-mesti-jadi-dan-langsung-untung. Ada risiko besar yang tersirat di sana. Risiko pendanaan yang ‘ceuk-teori-mah’ akan berbanding lurus dengan learning curve para animator dalam negeri.

Sesuai lagu: Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya, bangunlah juga skillnya! Para animator Indonesia adalah asset bangsa. Membangun asset bangsa seperti ini rasanya jauh lebih besar nilainya daripada sekedar ngomongin untung-rugi investasi jangka pendek.

Tapi ah sudahlah, siapa da aku mah. Cuma bubuk rangginang. Jadi daripada pusing-pusing mikirin industri animasi, saya mah milih untuk pusing saja mikirin mahasiswa saya yang hari ini nggak pada kuliah. Jadi bingung. Kamarana barudak teh nya? Kok nggak ada di kampus? Aneh.

Saya bertemu dengan para mahasiswa saya di BIAF 2017. Saya kaget. Ternyata mereka mabal! Sontak saya tegur mereka sambil berkacak pinggang.

“Heh, Nadia! Kamu kok nggak kuliah hari ini?”

“Iya, pak. Maaf. Habis dosennya nggak ada. Jadi hari ini kita nggak pada kuliah.”

“Oh, gitu. Dosennya nggak masuk ya? Emang siapa dosennya?”

“Kan bapak.”

GUBRAK!

Saya lupa kalau ternyata hari ini memang kuliah sengaja saya liburkan. Selain karena beberapa mahasiswa saya menjadi panitia inti BIAF, saya juga ingin mengajak mereka untuk memahami dunia industri animasi yang sebenarnya. Yah, semacam kuliah di alam terbuka gitulah.

Ini adalah Dea. Saya lupa namanya. Dea Ananda atau Dea Imut ya? Pokoknya dia adalah salah satu mahasiswa saya yang terlibat dalam pembuatan film animasi kota Cimahi berjudul Dewi dan Surat Dari Cimahi. Film ini diproduseri oleh sahabat saya, kang Jody Handoyo.

Jangan tertipu dengan penampilan mereka yang unyu-unyu. Mahasiswi saya yang satu ini memiliki kemampuan desain grafis yang mencengangkan. Skillnya jauh di atas saya.

Sepasang pemuda yang mengaku ganteng ini juga memiliki masa depan sebagai animator profesional. Teknik animating yang mereka miliki berada jauh di atas rata-rata. Namun ketika harus berhadapan dengan Modelling apalagi Rigging mereka langsung cengar-cengir bari heuay. Yah, I know that Rigging thing is the most lieur part in animation!

Saya sangat berterima kasih dengan para mahasiswa saya yang sudah bersedia mengunjungi BIAF 2017. Ingatlah jika ini bukan sekedar pameran. Ini adalah proyeksi masa depan jika kalian semua ingin menapaki karir di dunia animasi yang penuh dengan darah dan air mata. Berjuanglah para ksatria baju hitam!

Terlepas dari kegundahan dan kekecewaan saya sebagai seorang rakyat jelata, biarlah unek-unek saya di atas menjadi bahan renungan dan introspeksi bagi kita semua. Karena bagaimana pun, industri animasi ini hanya bisa berjalan dengan baik jika didukung oleh Pemerintah, Media, dan Komunitas. Tanpa dukungan dari banyak pihak, da kami ma apa atuh. Cuma sekelompok manusia lieur, yang baca komik lieur, dan bukannya jadi pinter malah semakin lieur. Salam lieur lah pokoknya mah.

Bravo Industri Animasi Indonesia. Tetap Semangat!



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares