Catatan Dosen Galau: Ketika Para Sarjana IT Nggak Bisa Ngoding

Pertempuran sengit antara tukang ojek konvensional dan tukang ojek online menyisakan sebuah tanda tanya yang begitu besar di kepala saya. Bukan. Saya bukan mempermasalahkan siapa di antara mereka yang sala atau benar. Saya juga tidak mempersalahkan sikap pemerintah yang mencoba bersikap netral dengan ‘berlindung’ dibalik aturan yang memang belum ada. Yang saya permasalahkan justru terletak pada profesi tukang ojek online yang belakangan jadi booming.

Coba anda bayangkan! Dengan menjadi seorang ojek motor anda bisa mengantungi sekitar 6-8 juta rupiah dalam sebulan. Jam kerja fleksibel, dan metode kerja anda sangat epektip karena penumpang bisa anda bidik hanya menggunakan smartphone. Nggak heran gaji segitu bikin banyak lulusan S1, S2 bahkan S3 yang berebut ingin menjadi tukang ojek. Termasuk beberapa kawan saya sendiri yang mengatakan keberadaan service ini adalah sebuah ladang segar bagi mereka untuk menambah penghasilan.

Di sini saya jadi galau. Bukannya saya nggak setuju teman-teman saya menekuni bidang perojekan, toh duitnya emang gede. Cuma masalahnya, lo pan sarjana bos! Lo udah kuliah 4 tahun! Lo udah mengalami puluhan bahkan ratusan penderitaan di dunia kuliah! Mulai dari penderitaan udah capek-capek pergi kuliah dosennya ga dateng! Tugas bejibun dan dedlen mepet kayak proyek sangkuriang. Sampe penderitaan jomblo menahun, cinta ditolak atau ditikung temen sendiri.

Sudah sarjana kok masih mau jadi tukang ojek? Masalah hobi? Nggak mungkin. Masalah keuangan? Bisa jadi. Masalah skill? Nah ini dia masalahnya. Besar kemungkinan para sarjana yang masih napsu cari tambahan jadi tukang ojek karena memang mereka nggak punya kompetensi di bidangnya. Ini yang bahaya! Karena kalau siklus sarjana berijazah tapi nggak ngapa-ngapain ini nggak diputus, bersiaplah Indonesia akan dikelilingi oleh para zombie berijazah.

Manusianya? Berdatangan dari luar negeri. Bagaimana pun, Indonesia ini adalah pasar yang seksi. Ibarat hutan lebat berdaun hijau, ada begitu banyak makhluk yang ingin merumput di Indonesia. Sudah siapkah kita? Sudah siapkah para sarjana kita?

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku perkuliahan, ada satu doktrin yang ditularkan secara masif oleh para dosen. Lulusan SMK dan D3 adalah programmer, Lulusan S1 adalah System Analyst, artinya lo nggak usah ngoding, lo cuma fokus bikin skema/rancangan database, form, report, proses bisnis dan sebagainya. Soal ngoding suruhlah anak-anak D3 atau SMK yang memang disiapkan untuk jadi programmer handal.

Sekilas doktrin itu sangat menggembirakan. Secara posisi saya waktu itu kan mahasiswa S1. Namun jika doktrin itu saya pikirkan lagi saat ini, dengan rasio jumlah mahasiswa S1 yang bejibun, dan semuanya jadi System Analyst, terus yang ngoding siapa?



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares