Duck Tales 2017: Reboot Kisah Klasik Paman Gober Yang Bikin Ribut!

Saya suka banget dengan serial Donal Bebek. Dulu banget, waktu saya masih SD, sebelum berangkat sekolah setiap hari Selasa saya selalu nungguin mang-mang tukang majalah langganan yang datang ke rumah buat setor buku Donal Bebek. Waktu itu harganya cuma Rp. 900 rupiah. Harga yang murah untuk kisah yang sangat istimewa. Kala itu, film animasi Donal Bebek belum banyak beredar. Cuma beberapa saja. Berupa film pendek 3-4 menitan.

Kalau pun ada yang durasinya panjang, mesti pinjem ke tukang rental video betamax. Melalui kaset segede gaban itulah saya pertama kali dikenalkan dengan spin-off  Donal Bebek yang justru belakangan malah lebih tenar. Petualangan paman Gober (aka uncle Scrooge di versi Inggris) dalam berpetualang kembali dalam mencari harta karun di seluruh dunia yang berjudul:

Duck Tales! Woo-hoo! 

Bagian Woo-Hoo nya itu yang memorable. Saking ngefansnya sama Paman Gober, saya sampai koleksi buku Kisah Hidup Paman Gober (The Life and Times of Scrooge McDuck), yang belakang saya baru tahu kalau buku-buku ini dicetak ulang dan dibundle dalam 1 jilid utuh. Duh, kenapa nggak dari dulu sih?

Ketika saya dengar kabar jika Duck Tales akan direboot ulang, saya langsung cemas sekaligus antusias! Ingatan soal Duck Tales versi lama soalnya terlalu kuat dalam benak. Ada semacam auto-resistansi jika karya emas jadul ini direboot. Tapi saya teringat satu hal jika sebuah IP legendaris itu baru bisa disebut ‘legendaris’ jika bisa dipublikasikan ulang.

Bukankah Superman, Batman, Hulk, Captain Amerika beserta pahlawan DC dan Marvel juga melalui proses yang sama? Mereka direboot sesuai dengan kondisi dan jaman. Nggak cuma sekedar biar kekinian. Tapi agar audiens generasi baru, yang hidup di masa yang berbeda, dapat menikmati kembali IP legendaris tersebut tanpa harus merasakan suasana yang jadul. Dan saya rasa inilah yang coba dilakukan oleh Duck Tales.

Apakah Reboot-nya berhasil? Atau malah bikin ribut bagi penggemar lama?

Style gambar yang berubah drastis ala Amerika

Dalam film Duck Tales versi lama, proses penggambaran menggunakan pensil secara manual sehingga hasilnya terkesan lebih luwes. Terutama pada bagian ujung paruh, dan jari jemari. Sementara dalam versi baru, goresannya cenderung lebih kaku dan tegak lurus. Kemungkinannya ada 2. Penggambaran karakter dilakukan secara digital, atau style artistnya memang punya rasa amerika banget. Teknik penggambaran seperti ini memang umum digunakan pada kartun-kartun amerika seperti Ben 10, Power Puff Girls, Batman The Animated dll.

Soundtrack barunya bagus! Cuma kurang Woo-hoo!

Sebagai sebuah film reboot, Duck Tales melakukan langkah yang cukup bijaksana (daripada diamuk fans) dengan tetap mempertahankan lirik lagu versi lama dan hanya mengubah musiknya saja. Dan saya suka dengan lagu barunya. Suasananya terasa lebih renyah dan ceria. Cocok untuk tema adventure. Namun di sisi lain, suara Woo-Hoo nya kurang berasa. Padahal Duck Tales itu yang penting Woo-Hoo nya!

Teaser trailernya keren bingit! Bikin penasaran!

Bedanya hidup di jaman sekarang adalah semua ada iklannya. Memang sih teaser, trailer, atau apa pun namanya itu tidak bisa dijadikan untuk menjadikan penilaian secara keseluruhan. Tapi trailer ini buat saya cukup! Cukup bikin penasaraan! Dalam teaser ini beberapa kali diperlihatkan jika paman Gober yang dibilang sudah ‘tua’ ternyata memang masih sangat tangguh. Paman Gober membuktikan jika peribahasa tua-tua keladi, makin tua makin jadi itu benar adanya!



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares