Hebohnya Community Gathering Dinan Art – Semangat Baja Kami!

Heboh! Satu kata itu rasanya cukup untuk menggambarkan suasana Community Gathering yang digagas oleh kang Dinan dan Illuminator School. Seperti yang pernah saya bahas sebelumnya, Illuminator School adalah sebuah komunitas asuhan kang Dinan yang merupakan tempat berkumpulnya para penggemar ilustrasi metal.

Alasan penggunaan nama Illuminator sendiri, kang Dinan menyebutkan jika nama ini berasal dari dua kata yaitu Ilustrasi dan Terminator. Maksudnya Ilustrasi para penggemar Terminator kitu? Bukan. Maksudnya, Illuminator adalah tempat para ilustrator yang siap untuk menghancurkan.

Menghancurkan apa? Ah, menghancurkan apa we yang bisa dihancurkan, hehehe.

Saya secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada kang Dinan cs yang telah bersedia untuk mengundang kami (saya dan kang Iboy) untuk datang sebagai salah satu nara sumber dalam acara tersebut. Padahal, acara ini merupakan sebuah acara komunitas tersegmentasi yang dikhususkan untuk kalangan tertentu.

Kehadiran saya dan kang Iboy yang berasal dari dunia komik tentunya merupakan sebuah “keanehan” tersendiri meski secara umum, konteks yang digusung tetaplah sama yaitu ilustrasi. Bedanya, yang satu ilustrasi metal yang satunya lagi ilustrasi unyu-unyu.

Ada dua alasan utama kenapa kang Dinan mengundang kami. Yang pertama adalah, untuk memperluas wawasan rekan-rekan komunitasnya. Hal ini tentu saja merupakan satu langkah yang berani sekaligus brilian. Karena mempertemukan dua komunitas yang berbeda di dalam satu acara bukanlah satu hal yang mudah.

Adanya event untuk saling berbagi ilmu tidak hanya bermanfaat bagi komunitas Illuminator School, tapi juga bagi kami. Karena jujur, saya sendiri tidak pernah tahu jika di Bandung teh ada komunitas seperti ini. Sepertinya, event lintas komunitas ini harus terus dilakukan dengan berbagai komunitas yang lain. Bukan hanya untuk sebagai ajang saling mengenal, tapi untuk memperluas wawasan yang secara tidak langsung akan meningkatkan daya kreatifitas kita masing-masing.

Alasan kedua adalah mencari potensi kolaborasi. Lagi-lagi ini adalah sebuah alasan yang luar biasa. Sangat jarang ada orang yang bisa berpikir untuk mencari peluang kolaborasi diluar zona nyamanya.

Saat kang Dinan mengatakan jika saya adalah orang yang dicarinya selama 20 tahun, saya langsung deg-degan, emangnya saya punya hutang kredit panci yang belum lunas kitu?

Rupanya kang Dinan sedang mencari partner penulis untuk menggarap draft komiknya yang terbengkalai selama berabad-abad. Waduh, lama bener ya?

Sesi pertama talk show WOW Komik menghadirkan kang Iboy sebagai Founder. Dalam sesi ini, kang Iboy menceritakan napak tilas perjalanannya dalam mendirikan dua studio komik (AIU dan WOW), termasuk bagaimana akhirnya kang Iboy mampu menjalin kerja sama dengan studio komik di luar negeri.

Kalau sudah urusan luar negeri, biasanya pasti yang diomongin adalah rate alias duit. Tentu saja pembahasan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta audiens.

“Duitnya memang gede, namun membuat komik berbeda dengan hanya membuat ilustrasi,” tandas kang Iboy. “Satu halaman komik terdiri dari beberapa panel, dan masing-masing bisa dianggap sebagai sebuah ilustrasi. Proses pengerjaan komik juga ditentukan deadlinenya jadi disiplin itu penting!”

Di sesi kedua, saya langsung ikut nimbrung dengan membahas “materi pesenan” kang Dinan yaitu bagaimana caranya membuat sebuah script komik?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya harus mengulas dasar-dasar pembuatan sebuah cerita yang secara ringkas saya tegaskan sebagai: “Membuat Cerita Dalam 1 Kalimat“. Karena jika kita sudah bisa membuat cerita dalam 1 kalimat, berarti kita sebagai penulis sudah paham betul akan membuat cerita seperti apa.

Salah satu contoh IP yang saya gunakan untuk menjelaskan hal ini adalah naskah novel saya yang telah ditolak yaitu The Astrajingga.

Seperti biasa, naluri pedagang asongan saya bergejolak jika sudah menjadi pembicara. Ujung-ujungnya saya malah sibuk nawarin WOW Komik kepada Audiens.

“WOW Komik! WOW Komik! Tilu rebuan! Tilu rebuan!” Hehehe. Boong deng.

Selepas sesi Talk Show berakhir, saya bertemu dengan rekan-rekan sesama perjuangan di industri kreatif khususnya ilustrasi. Dari kiri ke kanan, ada kang Agus yang merupakan kreator Komik Lieur, kang Dinan pendiri komunitas Illuminator School, ada saya yang ehm, ganteng banget, kemudian ada kang Denny Row kreator Buttman yang bukunya di pegang kang Dinan serta ada kang Dodi yang merupakan host Obor Desain.

Bagi saya, acara ini merupakan awal dari proses kolaborasi yang lebih besar. Wujud dari Bhineka Tunggal Ika yang sebenarnya adalah ketika beberapa komponen yang jelas-jelas berbeda secara konten namun menjadi pelengkap dari komponen yang lain secara konteks.

Sukses terus untuk Dinan Art dan komunitasnya. Sampai ketemu di event selanjutnya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares