Kenapa Info Dump Harus Dihindari Dalam Penulisan Fiksi?

Memahami cara menghindari Info Dump adalah mempelajari cara memahami kurva belajar seseorang (learning curve). Apa itu Learning Curve? Learning curve adalah tingkat kemajuan seseorang dalam memperoleh pengalaman atau keterampilan baru.Semua cerita memberikan pengalaman baru pada pembacanya. Baik itu di Speculative Fiction atau di General Fiction.

Saat pembaca membaca sebuah cerita maka mereka mempelajari segala sesuatu yang harus mereka ketahui untuk memahami cerita buku tersebut. Jika cerita tersebut menceritakan kisah tentang seorang dokter, maka pembaca pasti akan mempelajari beberapa istilah kedokteran. Jika buku menceritakan kisah tentang anak SMA, maka pembaca akan mempelajari istilah-istilah dan dinamika yang terjadi di sekolah.

Pada cerita fiksi umum, pengalaman ini tidak terlalu berbeda dengan apa yang sudah banyak terjadi di dunia nyata. Hal ini membuat kurva belajar yang diberikan cukup landai, ringan dan mudah dipahami.

Tapi pada fiksi spekulatif, kurva belajar ini seketika berubah curam.

Cerita dalam fiksi spekulatif menawarkan dunia yang baru dengan istilah dan tradisinya sendiri, dan pembaca diharapkan dapat menguasai semua hal tentang dunia ini sebelum cerita mencapai klimaks (karena di dunia fiksi spekulatif, klimaks tak jarang terikat erat dengan dunia ajaib penciptanya), dan ini yang menyebabkan banyak penulis seolah berlomba-lomba melontarkan dan menenggelamkan pembaca mereka dalam lautan informasi tentang dunia baru yang mereka ciptakan.

Sebelum saya melanjutkan ini tentu saja saya harus menjelaskan dulu apa itu info dump.

Info dump adalah keadaan di mana sejumlah besar informasi disampaikan sekaligus. Contoh terbesar untuk hal ini adalah intro dari film STAR WARS (saat latar belakang cerita disampaikan dalam bentuk tulisan panjang yang harus dibaca sebelum film dimulai).

Kenapa info dump harus dihindari?

Karena memastikan serangkaian informasi dapat diterima dan dipahami seseorang itu benar-benar sulit dilakukan. Sebagaimana saat ini, saya, menuliskan informasi ini sambil memikirkan bagaimana cara terbaik agar materi ini dapat tetap menarik dibaca sekalipun isinya hanyalah narasi tanpa adanya dialog atau aksi yang dapat menarik perhatian.

Secara pribadi, jika kalian menikmati apa yang saya sampaikan saat ini, maka saya harus berterima kasih pada kedua orang tua saya yang, bagi saya, adalah dua orang dosen dengan cara mengajar terbaik yang pernah saya kenal (also they teach me everything I know so, yeah). Tapi tidak semua orang seberuntung saya, yang mendapat pengajaran “cara mengajar” dari orang tua saya, dan tidak semua penulis tahu bahwa mereka sedang mengajari seseorang saat menuliskan cerita, dan kalaupun tahu, tak semua penulis tahu cara mengajar yang baik.

Jadi, bagaimana menghindari Info Dump?

Untuk mengetahui cara mengajar, adalah mengetahui terlebih dahulu siapa siswanya. Know your audience! Kenali untuk siapa kalian menulis.

Secara pribadi, saya menulis sebagian untuk diri saya sendiri. Saya menulis karena cerita yang saya ingin nikmati belum ditulis oleh orang lain, atau dalam beberapa kejadian disampaikan dengan cara yang tidak saya sukai. Karena itu saya menuliskannya dengan cara saya sendiri, sebagaimana saya menyukainya.

Tapi masing-masing penulis memiliki audience incaran mereka masing-masing, dan masing-masing orang adalah pribadi yang berbeda. Ini yang menyebabkan, sekalipun STAR WARS diawali dengan info dump di bagian awal ceritanya, banyak penonton yang tetap menyukai cerita film tersebut, dan bahkan kini cendrung menantikan intro dalam bentuk eksposisi tersebut.

Hal ini membuktikan bahwa info dump tidak serta merta membuat sebuah cerita menjadi cerita yang buruk, hanya mungkin hal ini menghentikan seseorang dalam membaca cerita lebih jauh karena terintimidasi oleh banyaknya informasi yang mereka terima di bagian awal cerita (Saya adalah orang yang mematikan film starwars karena filmnya dimulai dengan eksposisi di awal cerita, dan hal itu mencegah saya untuk menikmati film star wars selama hampir lebih dari sepuluh tahun–saya sekarang sudah nonton film starwars dari original trilogy, dan prequel trilogy, force awaken dan akan bergerak ke rogue one).

Info Dump tidak serta merta harus dihindari. Jika memang penulis merasa percaya diri kalau pembaca tidak akan meninggalkannya setelah melempari mereka dengan sejumlah informasi dalam sekali lempar, maka tidak ada yang dapat mempersalahkan keputusan penulis tersebut. Tapi saya yakin tidak ada penulis yang benar-benar ingin melakukan hal ini. Karena itu ingatlah hal ini sebelum melontarkan kritik tentang Info Dump, penulis mungkin menuliskan info dump lebih karena ia tak punya cara lain untuk menyampaikan informasi yang ingin disampaikannya. Karena itu cobalah menjadi pembaca yang lebih baik, dan beri kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan cerita mereka.

Cara menghindari Info Dump!

Cara ini sebenarnya bergantung sepenuhnya pada kemampuan penulis dalam menciptakan karakternya. Cerita Isekai misalnya, sebenarnya memiliki kesempatan lebih tinggi dalam menghindari info dump, karena sebagaimana pembaca yang tak tahu apa-apa tentang dunia yang disampaikan cerita, MC dalam cerita ini pun tidak tahu apa-apa tentang dunia yang disampaikan cerita, dan ini membentuk suatu siklus pembelajaran yang sangat-sangat menarik untuk diikuti.

Sebagaimana Harry Potter mempelajari eksistensi sihir dalam kehidupannya, dan Percy Jackson mempelajari tentang jati dirinya sebagai manusia setengah dewa. MC dalam cerita isekai juga mempelajari hal-hal baru dalam kehidupannya, di sinilah SHOW dan TELL mengambil peranan penting.

Memperkenalkan dunia pada karakter yang tidak tahu apa-apa tentang dunia itu, sama saja dengan menceritakan kisah seorang turis yang datang berkunjung ke sebuah negara asing yang tak pernah diinjaknya. Beberapa turis mungkin tau beberapa hal tentang negara itu, tapi tak jarang juga ada turis yang tidak tahu apa-apa tentang suatu negara dan memilih untuk mengambil langkah nekat dalam mencicipi segala hal di sekelilingnya, dan ia tahu penduduk lokal di negara itu pasti dapat menolongnya mengenal lebih dalam tentang negara yang dikunjunginya, karena itulah turis baru sering meminta bantuan penduduk lokal sebagai pemandunya.

Pemandu ini adalah analogi untuk sosok mentor di dalam cerita. Mereka adalah sosok yang memberi tahukan (TELL) segala hal-hal dasar yang mungkin perlu diketahui oleh MC untuk bertahan hidup di dunia barunya.

Pemandu terkadang menceritakan secara panjang lebar sejarah dari suatu hal yang sedang dijelaskannya, tapi tetap saja pada akhirnya, pilihan berada di tangan MC untuk mendengarkannya atau tidak. Sebagian besar turis (yang saya amati setiap kali saya ikut dalam sebuah tur), memilih untuk tidak mendengarkan panduan turis, dan di sini masuk peranan SHOW, di mana, menghiraukan penjelasan Mentor/Pemandu, MC memutuskan untuk breksperimen sendiri dengan dunianya.

SHOW jelas lebih menarik, karena MC mempelajari dunia melalui pengalamannya sendiri, ketimbang mendengarkan penjelasan panjang lebar dari seseorang yang mungkin tidak terlalu pintar menjelaskan sesuatu. Dan seseorang akan mempelajari hal dengan baik setelah ia menghadapi kegagalan, atau untuk bagian awal cerita, hal bodoh yang akan membuatnya nyaris terbunuh dan membuatnya yakin untuk tidak pernah lagi melakukan hal yang sama.

Beri MC beberapa teman dengan kepribadian yang berbeda (si tolol dan si pintar misalnya, sebagaimana yang tampaknya bekerja dengan sangat baik dalam Harry Potter dan Percy Jackson), maka MC dapat melakukan eksperimen ini tidak hanya dengan melakukan eksperimen itu sendiri, tapi ia dapat mempelajari konsekuensi dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensi yang didapatkan oleh temannya.

Ron yang mendapat Howler dari Ibunya, dan Hermaonie yang berubah menjadi manusia kucing sebagai contohnya. Di masing-masing kejadian ini JK Rowling tidak perlu menjelaskan secara detail apa itu Howler dan apa yang terjadi pada seseorang yang meminum cairan Polyjuice, tapi pengalaman yang dialami baik Ron dan Hermaoine, memberi baik Harry dan sekaligus pembaca, gambaran berkenaan fungsi kedua benda tersebut (Also, dalam serial Harry Potter dan Percy Jackson, sosok karakter si Pintar, cendrung ikut mengambil alih peran mentor, dan memberi tahu pembaca segala informasi penting yang mungkin penting untuk berjalannya plot).

Dalam cerita isekai, pertahankanlah Tell dalam kategori minimum (hanya untuk hal-hal yang dirasa tidak terlalu penting, tapi hanya ingin ditambahkan penulis dalam cerita untuk membuat dunianya lebih hidup), dan SHOW untuk sebagian besar kejadian.

Tapi bagaimana dengan cerita di mana karakter adalah tokoh yang memang adalah tokoh yang sudah hidup di dunia ajaib buatan penulis sejak ia lahir. Bagaimana penulis dapat menjelaskan keajaiban dunia ini tanpa melakukan info dump?

Ini adalah point menarik yang sebenarnya adalah percobaan yang saya sendiri sedang lakukan, di mana, penulis TIDAK MENJELASKANNYA, dan membiarkan pembaca menerka sendiri keajaiban dari dunia ini.

Ini adalah sepenuhnya tips yang saya sadari sendiri, dan sebenarnya lebih ke arah gagasan yang masih berada dalam bentuk teori tapi saya yakin cukup efektif. Kenapa? Karena komunitas LIGHT NOVEL INDONESIA sendiri adalah bukti yang memperkuat teori saya.

Manusia adalah mahluk yang unik karena kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan kehidupan sosial di sekitar mereka. Saat seorang anak SD masuk ke SMP, perlahan dan dengan sendirinya mereka menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan SMP, begitu juga saat mereka masuk ke dalam SMA dan kemudian Kuliah.

Masing-masing dari mereka memiliki opini dan pandangannya sendiri tentang dunia di sekitar mereka, tapi yang pasti adalah, tak ada satu pun dari mereka yang mendapat ajaran dari sosok mentor/pemandu, yang mengajari mereka cara bergaul dengan teman sekitar mereka.

Hal ini terlihat juga dari fenomena meledaknya kegilaan terhadap budaya K-POP, dan J-POP di Indonesia. Fans K-POP awalnya tidak pernah ke Korea, mereka hanya menikmati dunia korea dari apa yang mereka lihat melalui drama korea, atau seperti dalam grup ini, anime misalnya mengajari penontonnya tentang dinamika kehidupan Jepang.

Tak ada yang mengajari atau menjelaskan penonton anime misalnya alasan kenapa orang Jepang menggunakan kimono, tapi apa penontonnya peduli? Tidak. Mereka menerima hal itu sebagai fakta tanpa terlalu mempertanyakannya, dan seiring dengan banyaknya drama dan/atau anime yang mereka tonton, semakin banyak juga hal tentang Jepang dan/atau Korea yang mereka ketahui.

Hal ini terlihat jelas dari bagaimana K-popers gemar memanggil laki-laki lebih tua yang disukainya dengan panggilan “Oppa” dan penggemar anime hampir secara instingtif memanggil orang yang mereka pandang sebagai senior sebagai “Senpai.” Tak ada yang menjelaskan guna kata tersebut pada mereka, tapi dari apa yang mereka amati mereka menyadari sendiri fungsi kata tersebut.

Menerapkan hal ini dalam bentuk cerita, saya sebagai penulis memikirkan, kenapa juga saya repot-repot menjelaskan banyak hal dalam cerita kalau pembaca memiliki kemampuan beradaptasi sendiri terhadap ketidak laziman yang ditunjukkan dari sesuatu yang ditonton dan dibacanya. Bagaimana pun juga tidak ada satu pun pembaca yang tahu kehidupan asli di Amerika Serikat atau Inggris, tapi mereka tak pernah tampaknya kebingungan dalam membaca cerita terjemahan yang berlatarkan Amerika atau Inggris. Apa yang membuat kehidupan negara asing berbeda dengan kehidupan dunia asing? Tidak ada. Yang membedakan hanyalah keinginan dari penulis sendiri untuk menunjukkan sebarapa keren dunianya pada pembaca.

Untuk karakter yang memang hidup di dunia asing seumur hidupnya, SHOW adalah kuncinya, dan tahan diri kalian sebagai penulis yang ingin menjelaskan segala jenis keanehan dalam dunia baru. Karakter yang kalian buat, hidup di dunia ini dari lahir, mereka tahu apa yang mereka lakukan, kalau penulis terus-terusan berusaha menjelaskan hal yang sudah seharusnya diketahui oleh MC, sebagai ganti menunjukkan dunia yang ajaib, penulis justru menunjukkan tokoh utama yang tak bisa diandalkan.

Kalian ingin menggunakan kata asing? Gunakan kata asing tersebut untuk satu hal, berulang-ulang dalam cerita. Kata itu akan dapat diingat oleh pembaca tanpa kalian perlu membuat Glossarynya.

Kalian ingin menjelaskan sejarah panjang suatu dunia? Pikirkan terlebih dahulu, apakah kalian sendiri mau mendengar berulang-ulang teori tentang BIG BANG, atau kisah adam dan hawa. Dan pikirkan dalam skenario apa biasanya hal-hal ini biasanya muncul dalam kehidupan kalian. Letakkan skenario itu dalam cerita yang berhubungan langsung dengan plot.

Tentu saja tetap ada hal-hal kecil yang mau tak mau harus dijelaskan, tapi coba pikirkan hal-hal apa yang dalam hidup kalian memerlukan penjelasan sebelum kalian memutuskan untuk menuliskan penjelasan itu dalam cerita.

Pembaca bukanlah orang bodoh (yah walau ada aja sih yang gak ngeh-ngeh juga) yang harus terus-terusan dicekoki informasi. Mereka adalah orang-orang yang beradaptasi dengan apa yang mereka alami, yang perlu kalian lakukan adalah menciptakan skenario yang tepat untuk mempermudah proses adaptasi mereka.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares