Kiky Si Kancil – Bring Fabel To The Next Level

“Si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun. Ayo lekas diburu, jangan diberi ampun!” kurang lebih begitulah lirik lagu yang diambil dari dongeng si kancil. Dalam dongeng tersebut diceritakan jika si kancil telah mencuri ketimun dari kebun seorang petani. Namun berkat kelicikannya (baca: cerdik) si kancil berhasil lolos dan membuat sang petani geram bukan kepalang.

Sisi Negatif Karakter Si Kancil

Sejak kecil saya selalu beranggapan jika si kancil adalah binatang yang pintar dan cerdik. Namun seiring bertambahnya usia, saya mulai menyadari jika dongeng si kancil sebenarnya adalah dongeng yang memiliki pengaruh buruk. Hampir seluruh cerita tentang si kancil lebih menitikberatkan pada bagaimana dia berhasil lolos setelah melakukan sebuah ‘kejahatan’. Tidak heran jika beberapa organisasi perlindungan anak mulai melarang orang tua menceritakan tentang dongeng si kancil. Kuat dugaan jika cerita itulah yang menjadi faktor utama lahirnya ratusan koruptor ‘cerdik’ di negara kita.

Sebagai salah satu manusia yang dibesarkan oleh dongeng si kancil, jujur saya sangat terpukul mengetahui kenyataan ini. Ternyata selama ini saya telah mengidolakan seekor binatang yang jahat. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan. Ternyata kancil tidak menyukai ketimun!

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Djalal Rosyidi, Mahasiswa S3 Program Studi Ilmu Ternak Ilmu Pertanian Bogor (IPB) diketahui jika kancil lebih menyukai pisang, dan ubi ketimbang ketimun. Sebagai salah satu hewan pemamah biak primitif, kancil memiliki lambung yang hanya terdiri dari tiga ruang. Hal ini membuatnya sangat selektif dalam memilih makanan. Di sisi lain, ketimun mengeluarkan getah serta bau yang tak disukai kancil. Ketimun juga tergolong keras sehingga tidak cocok dengan bentuk lambung kancil yang sederhana.

Fakta ini sontak membuat pandangan saya terhadap si kancil (lagi-lagi) berbalik 180 derajat. Jika seekor kancil tidak menyukai ketimun, lalu apa mungkin dia mau repot-repot mencuri ketimun? Tidak perlu menjadi seorang detektif Conan untuk mengetahui kalau ada yang salah pada cerita si kancil yang selama ini kita dengar.

detektif

Berdasarkan keyakinan itu, serta keinginan untuk mengubah image si kancil menjadi lebih baik, saya pun mencetuskan proyek yang dinamakan Kancil Saga. Sebuah cerita tentang seekor kancil bernama Kiky yang lucu, cerdik, sedikit bandel dan sangat pemberani. Semoga cerita ini bisa mengubah image tentang si kancil yang selama ini kita kenal dan menjadikannya sosok pahlawan yang pantas untuk dijadikan idola.

Ternyata Saya Bukan Yang Pertama

Ketika saya pertama kali menemukan ide untuk mengubah image karakter si kancil, saya merasa (waktu itu) saya sangat jenius. Saya sampai berpikir sepertinya belum pernah ada seorang pun, sebelum saya, yang pernah memikirkan hal serupa.

Ternyata saya keliru. Rupanya sebelum saya, ada banyak sekali pengarang-pengarang senior yang sempat mencoba mengubah image negatif karakter si kancil menjadi positif. Mulai dari Eyang Djokolelono, Heru Yuwono sampai Tedi Siswanto. Semuanya kompak mencari cara untuk menjadikan karakter si kancil ini bisa diminati oleh anak-anak dengan memangkas habis sisi negatifnya.

jangan-salahkan-kambing-hitam-salahkan-si-kancil-d

Sayangnya, semua usaha tersebut belum membuahkan hasil. Tidak perduli bagaimana pun usaha yang telah dilakukan, image negatif karakter kancil sudah membusuk sampai ke akarnya. Kalau ditanya soal si kancil, pikiran pertama yang muncul pasti: “si pencuri ketimun”. Sisanya? Tambahkan saja hal yang jelek-jelek, seperti suka menipu, licik, tukang bohong dan sebagainya.

Hal ini pula sepertinya yang membuat banyak penerbit kapok untuk kembali menerbitkan kisah klasik yang penuh dengan nuansa negatif tersebut.

Tapi Kiky Si Kancil berbeda. Saya yakin, cerita yang saya buat pasti berhasil untuk mengubah reputasi Kiky Si Kancil dan menjadikannya sosok yang disukai banyak orang, terutama anak-anak. Berbekal rasa percaya diri yang berlebihan, pada tahun 2012 saya pun melaju dengan membuat kisah awal Kiky Si Kancil. Karena sense of humor yang ada pada saya juga sangat tinggi, saya menggabungkan ‘rasa’ Harry Potter ke dalam desain Kiky Si Kancil.

Jadilah kisah ini saya beri nama: Kancil Saga.

header

Cerita Kiky Si Kancil versi Kancil Saga ini sebenarnya tidak terlalu istimewa. Saya hanya memparodikan beberapa kisah kancil klasik yang kemudian diberikan sedikit twist di ujung cerita. Fungsinya sudah jelas. Untuk memutarbalikkan reputasi buruk yang sudah terlanjur melekat pada karakter si kancil.

Apakah itu berhasil? Entahlah. Saya nggak tahu. Yang jelas tiga naskah awal Kancil Saga langsung saya kirimkan ke 15 penerbit mayor. Hasilnya? Bisa ditebak dong. 12 penerbit menolak naskah tersebut dengan alasan karakter si kancil sudah tidak cocok untuk anak-anak zaman sekarang yang kebanyakan SUDAH TIDAK MENGENAL cerita tentang si kancil.

Dan saat itulah Les Copaque melaju dengan animasi Pada Zaman Dahulu.

padazamandahulu

Kehadiran film animasi dari studio yang juga menggarap Ipin dan Upin itu membuat saya kecewa sekaligus geram. Saya kalah telak. Di dalam negeri, naskah Kiky Si Kancil ditolak oleh penebit. Dari luar negeri, ada ancaman serius yang bisa langsung mematikan “karir” Kiky Si Kancil yang memang belum jelas nasibnya.

Untungnya tidak semua menolak draft naskah Kancil Saga. Ada 3 penerbit mayor lain yang menyadari potensi naskah Kiky Si Kancil dan memilih untuk melakukan konfirmasi. Mereka adalah Bumi Aksara For Kids, Kepustakaan Populer Gramedia dan Gramedia Pustaka Utama.

Saya tidak sempat melakukan approach dengan pihak Bumi Aksara For Kids karena kalau tidak salah, waktu kunjungan saya bertepatan dengan Frankfrut Book Affair sehingga editornya sedang tidak berada di tempat. Akhirnya, approach pertama saya adalah ke penerbit KPG, salah satu penerbit di bawah naungan Kompas Gramedia.

Mbak Ratna selaku editor terlihat antusias dengan konsep naskah Kiky Si Kancil. Namun dia juga sekaligus keberatan dengan satu hal.

Mbak Ratna: “Kami tertarik dengan Kiky si kancil. Namun ada satu hal yang mengganjal yaitu bekas luka berbentuk petir. Karena itu mengingatkan pada Harry Potter. Bisa dihilangkan tidak?”

Saya: *sambil cengengesan* “Oh, bisa banget bu. Lagipula tugas dari bekas luka berbentuk petir itu kan sudah selesai. Saya sengaja membuat bekas luka itu, semata-mata sebagai siasat supaya saya bisa dipanggil penerbit. Dan siasat saya berhasil kan?”

Mbak Ratna bengong beberapa saat lalu kami semua tertawa. Ah, rupanya itulah misi dari bekas luka ala Harry Potter sebenarnya. Dalam pembahasan tersebut, Mbak Ratna kemudian meminta saya untuk menggarap Kiky Si Kancil menjadi sebuah novel anak yang lebih serius. Mirip-mirip genrenya Harry Potter ala Kancil lah. Requestnya pun sangat jelas.

Trilogy Novel Kiky Si Kancil.

Waaaah, jujur saja, itu adalah sebuah tantangan sekaligus lampu hijau untuk saya. Kapan lagi ada tawaran untuk membuat kisah Kiky Si Kancil dalam bentuk trilogi? Ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Sudah terbayang dalam benak saya bagaimana kisah Kiky Si Kancil ini akan berevolusi.

blog-kancil-saga-wallpaper

Approach saya yang lain yaitu dengan pihak Gramedia Pustaka tidak berjalan dengan mulus. Karena pada saat itu, pihak GPU hanya bersedia untuk menerbitkan naskah Kiky Si Kancil jika rancangan animasi dan game Kiky Si Kancil yang saya sebut dalam proposal sudah sangat siap.

Akhirnya saya pun memilih untuk berjalan dengan KPG dan menuntaskan trilogi Kiky Si Kancil.

Namun, trilogi Kiky Si Kancil tidak berhasil saya selesaikan. Selain masalah konsep, ada beberapa masalah teknis lain yang membuat saya akhirnya terpaksa menghentikan proyek novel Kiky Si Kancil. Alih-alih menyelesaikan novel, saya malah membuat buku komputer perdana saya yang berjudul Unity Tutorial Game Engine. Dan meski judulnya adalah buku komputer, saya tetap memasukkan unsur Kiky Si Kancil ke dalamnya.

sampuldepanunity kanan

Kiky Si Kancil Versi Anthromorphic

Tahun 2014 merupakan tahun evolusi kedua bagi Kiky Si Kancil. Karena pada tahun itu, saya memutuskan untuk tidak lagi menggarap Kiky Si Kancil versi binatang. Selain karena tidak mau jika harus berhadapan langsung dengan Pada Zaman Dahulu-nya Les Copaque, saya juga merasa sangat kesulitan jika harus membuat cerita 100% karakternya adalah binatang.

Untuk itulah saya perlu mengubah image Kiky Si Kancil yang semula adalah binatang menjadi sesosok Anthromorphic yaitu sejenis ras berwujud binatang namun berjalan dengan dua kaki seperti manusia. Saya menghubungi beberapa ilustrator, termasuk rekan-rekan dari Funco Unikom untuk sama-sama merancang versi baru dari Kiky Si Kancil.

Ada banyak sekali karakter Kiky Si Kancil yang dibuat dalam berbagai versi dan gaya.

Kiky_RedScout

Kiky_Assassin

Dan pilihan saya akhirnya jatuh pada Kiky Si Kancil versi Novian Rivai. Penggambaran Kiky Si Kancil inilah yang menurut saya sangat tepat untuk menggambarkan tokoh Kiky Si Kancil.

Kiky Si Kancil

Kiky Si Kancil versi Novian Rivai pula yang saya gunakan sebagai sampul pada buku Unity Tutorial Game Engine versi Revisi. Model 3Dnya sendiri dibuat oleh Hendry Nugraha.

13920953_1072192132902371_2933579185333927242_n

 

Wow Komik

Pertengahan tahun 2015 merupakan tahun yang berat bagi saya. Karena tidak ada tanda-tanda kemajuan terhadap Kiky Si Kancil yang sudah saya garap selama ini. Beruntung, saya bertemu Iboy. Founder AIU Komik ini sangat tertarik dengan Kiky Si Kancil dan meminta saya untuk membagi lisensi Kiky Si Kancil dengannya.

Tawaran yang mustahil saya tolak waktu itu. Karena jika Kiky Si Kancil memang sulit untuk diterbitkan sebagai sebuah novel, diterbitkan sebagai sebuah komik adalah satu alternatif yang sangat brilian. Selain lebih murah dari sisi produksi, komik adalah barometer yang paling sesuai untuk proses transmedia sebuah IP ke dalam bentuk game atau film animasi.

Sejak saat itulah Kiky Si Kancil resmi dimiliki oleh saya dan Iboy.

Proyek komik yang semula hanya akan berkutat pada Kiky Si Kancil pun malah semakin meluas. Berbagai peluang dan skema distribusi unik terbuka lebar. Melalui berbagai hasil analisis dan pemikiran panjang itulah WOW Komik pun terlahir.

Tahun 2017 sepertinya akan menjadi debut pertama Kiky Si Kancil di dunia percetakan. Bukan sebagai sebuah novel, melainkan sebuah komik. Di bawah naungan Wow Komik dan ilustrator jenius Mochammad Yusuf alias Riantho, saya sangat optimis jika impian saya bisa menjadi kenyataan dan Kiky Si Kancil bisa menuntaskan tugas para pendahulunya.

received_1441615512516090

Mengubah image buruk karakter si kancil dan kembali mempopulerkan cerita dengan tokoh ‘kancil’ di Indonesia.

Aamiin.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares