“Kimi No Na Wa” dan Sejuta Perasaan Didalamnya

Tanggal 7 desember 2016 merupakan hari yang paling saya tunggu. Kenapa ? Ulang taun pacar ? Penginnya gitu, tapi sayangnya bukan karena saya masih menjadi single player saja sekarang Hiksss…. (ceritanya curhat)

Review Kimi No Na Wa
Review Kimi No Na Wa
Review Kimi No Na Wa
Review Kimi No Na Wa
Review Kimi No Na Wa
Review Kimi No Na Wa
Review Kimi No Na Wa
Review Kimi No Na Wa

Jadi gini guys 7 desember itu saat dirilis nya sebuah movie dari salah satu anime yang sudah ditunggu oleh banyak otaku dan para wibu yang bertebaran di Indonesia. Film itu memiliki judul “KIMI NO NA WA” atau dalam Bahasa Indonesia itu adalah “Nama Mu”.

“Judul film kok Nama mu ? Emang bagus ?”

Asal tahu aja guys, anime ini punya pendapatan 1,3 milyar yen atau sekitar 147 Milyar ( Bisa beli cendol sama pabriknya tuh) hanya dalam 3 hari setelah waktu perilisan nya di jepang sana. Di Indonesia, film ini  baru kebagian tayang 7 desember sedangkan di jepang udah dari 26 agustus lalu.

Setelah nunggu dari agustus sampe desember akhirnya film yang bikin penasaran ini rilis juga di Indonesia. Tapi sayangnya saya baru bisa nonton tanggal 8 desember yaitu hari kamis karena harus benerin skripsi ( Maklum anak tingkat akhir yang banyak tekanan ) Padahal pengen pas premier rilisnya tapi apa daya.

Cukup dengan bahas skripsinya kita lanjut lagi soal kimi no na wa. Hari yang di tunggu pun tiba dan saya pun dan beberapa wibu dan otaku yang saya kenal pun meluncur ke bioskop.

Kami sengaja memilih hari kamis siang jam 1 untuk nonton supaya gk terlalu banyak orang yang nonton karena masih jam kantor dan kami bisa memilih posisi duduk lebih leluasa, tidak ditemukanya pasangan yang nonton bersama ( Supaya tidak terjadi iri Karena kami semua disini jomblo -_-) dan yang pasti karena tiketnya lebih murah karena bukan weekend, hahaha.

Baca juga:  “Koe No Katachi“ Mahakarya yang Penuh Dengan Karma

TAPI kenyataan berkata lain. Saat kami datang sekitar jam 12 siang loket tiket sudah antri sangat panjang sekali dan banyak dari mereka datang dengan pasanganya.

Awalnya kami pikir mereka akan menonton film yang lain (Kebetulan hari itu baru rilis film indo romance yang cukup terkenal) tapi pada waktu tiba giliran kami beli tiket ternyata jadwal jam 1 siang sudah penuh semua untuk film kimi no na wa, begitu pula untuk jam  2.30 siang dan hanya tersisa jadwal jam 2.55 siang itu pun hanya tersisa 10 kursi kosong saja.

Karena tidak ingin pulang dengan tangan kosong akhirnya kami membeli tiket jam 2.55 tersebut. Padahal kami kira akan sedikit yang nonton karena bajakanya sudah jauh rilis dibanding jadwal resmi tayang di indonesia

Oh ya untk info aja nih… jauh jauh hari sebelum film kimi no na wa resmi rilis di Indonesia pada bulan desember, sebenernya sih bajakanya udah banyak di internet tapi ya dengan kualitas gambar yang masih jelek. Tapi nonton bajakan itu menurut kami tidak ada sensasinya dan sangat tidak menghargai pembuat filmnya

(Kayak gk pernah nonton bajakan aja ngomongnya -_-)

Singkat cerita waktu nonton pun tiba. Seperti biasa penonton mulai duduk rapih di kursi yang sudah mereka pesan. Pada saat film belum mulai saya melihat ke sekeliling untuk mengecek siapa yang menonton film ini.

Fakta dilapangan menunjukan jika mayoritas penonton adalah remaja umur 18 atau mungkin lebih bahkan yang duduk di atas saya itu adalah pasangan yang mungkin sudah berumur 30 tahun, padahal kimi no na wa ini adalah film untuk abg, yah sekitar umur untuk anak 13 tahun ke atas lah.

Baca juga:  “Koe No Katachi“ Mahakarya yang Penuh Dengan Karma

Sepertinya hasil survey yang menunjukkan jika anak-anak berusia 13 ke bawah lebih suka nonton sinetron ketimbang anime itu benar adanya, hehehe.

Film pun dimulai. Secara perlahan para penonton diajak berpikir untuk memahami alur dari cerita ini, maklum saja alur cerita nya tidak seperti alur pertama anime romance klasik seperti adegan lagi jalan tabrakan lalu terjadinya tatapan pertama atau teman masa kecil yang saling jatuh cinta atau berbagai macam alur anime romance lainya.

dalam film ini terdapat unsur – unsur comedy yang menurut saya itu tidak terlalu berlebihan dan tidak menimbulkan efek “garing” pada humornya, jadi ya hasilnya penonton satu theater pun tertawa dengan lepas dan bukan tertawa dengan “sinis” melihat adegan komedi pada film ini.

Dari segi grafis gambar yang dihasilkan sangat keren dan berada jauh di atas anime jepang yang lain. Kimi No Na Wa adalah animasi murni 2D namun kualitasnya sangat luar biasa. Sangat artistik. Komposisi tata warna yang digunakan benar – benar membuat gambar seolah – olah nyata tapi tetap tidak menghilangkan unsur khas gambar “anime” didalamnya

Film pun terus berlanjut sampai ke bagian cerita yang mulai bikin baper. Perasaan saya dan penonton lain pun tidak bisa melawan. Pada saat adegan sedih satu teater berkata

“ow ow ow ow ” ( dengan nada rendah )

Kami semua yang menonton mungkin jadi terdengar seperti ibu – ibu yang nonton sinetron yang di dalam hari berkata:

“Kamu kok sama dia ? Terus dianya mau kamu sakitin?”

“Kamu kok gk peka banget sih ?”

Pokoknya ibu – ibu nonton sinetron banget deh pokoknya padahal yang nonton anak muda semua.

Emosi yang di rasakan oleh pemeran utama cowo dan cewenya itu dirasakan juga oleh kita sebagai penonton. Belum lagi ditambah insert song yang selalu pas banget dengan feel dari adegan sedihnya. Pokoknya bikin perasaan para penonton itu campur aduk deh.

Baca juga:  “Koe No Katachi“ Mahakarya yang Penuh Dengan Karma

Adegan demi adegan berlangsung cepat mengaduk-ngaduk perasaan sampai-sampai penonton cewek di sebelah saya menangis. Adegannya memang mengiris hati dan membuat kami semua terpana.

Bagian menarik dari Kimi No Na Wa justru dimulai pada pertengahan film. Permasalahan utama baru mulai muncul saat cerita khas romance digulirkan. Ini keren. Buat saya yang sudah banyak menonton film anime romance, biasanya saya bisa menebak kemana alur cerita akan berjalan akan tetapi ini tidak berlaku untuk Kimi No Na Wa. Alurnya tidak bisa ditebak dan itu sungguh menakjubkan sekaleee…

Dengan semua emosi dan perasaan yang telah didapatkan sepanjang film, jujur saya tidak bisa menebak apakah film ini akan berakhir happy ending atau bad ending atau mungkin “ngegantung”.

Dan saya cukup suka dengan endingnya.

Hal yang menarik yang bisa saya dapatkan dari pengalaman ini adalah, saat film selesai diputar seluruh penonton bertepuk tangan dengan ramai, termasuk saya. Bahkan setelah lampu theater menyala kami tidak langsung keluar tetapi diam dulu sebentar menenangkan perasaan yang masih terbawa oleh cerita film.

Jarang-jarang ada penonton bertepuk tangan di bioskop loh. Bahkan untuk film sekelas Naruto The Movie dan One Piece The Movi, penonton biasanya langsung saja melangkah pulang segera setelah lampu theater dianyalakan.

Oh ya untuk kalian yang gak suka dengan anime dengan adanya adegan “tak senonoh” tenang saja. Kalau boleh saya bilang anime ini adalah “ The best anime romance without kissing “ dan adegan aneh lainnya pokoknya aman deh walau nonton sama orang tua, pacar atau mungkin juga calon mertua heheheh

Kalau ada kata yang bisa menggambarakan Kimi No Na Wa adalah “ MANTAP JIWAAAA” Cek aja trailernya dibawah ini. Tapi untuk lebih lengkapnya silahkan datang ke bioskop Blitzmegaplex.

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares