Obor Desain – Episode #28 Green Thinking

Obor Desain akhirnya live lagi. Setelah selama hampir 1 bulan, kang Dodi selaku host terkapar tak berdaya (bahasana meni lebay kieu euy), akhirnya Obor Desain kembali live. Episode kali ini menampilkan kang Iyus Kusnaedi sebagai narasumber. Beliau adalah seorang Interior Designer sekaligus dosen di ITENAS dengan materi yang sangat unik yaitu Green Thinking.

Apa itu Green Thinking? Secara bahasa, Green artinya hijau. Thinking adalah berpikir. Jadi Green Thinking bisa diartikan sebagai berpikir yang hijau-hijau. Mikirin daun, mikirin duit, sama mikirin upil.Eh, upil warnanya hijau gitu? Yah, gitulah. Itu secara bahasa. Lalu apa definisi Green Thinking secara istilah?

Saya menemukan istilah Green Marketing, Green Politics, dan Green Lantern yang merupakan temannya Superman. Tapi saya tidak menemukan istilah Green Thinking. Satu-satunya yang rada mirip mungkin penjelasan berikut: “Green thinking” shows ideas and some solutions that can take us to a Deep Green Society

Dan hal ini membuat saya jadi tambah bingung lagi karena istilah Green Thinking ini ternyata dikaitkan dengan istilah baru yaitu Deep Green Society. Lalu apa itu Deep Green Society? Saya bingung. Nyari definisinya juga males. Namun gambar ini sepertinya cukup untuk menggambarkan seperti apa wujud keseluruhan dari visi yang ingin dihasilkan oleh konsep Green Thinking.

Jika selama  ini kita selalu berpikir jika manusia adalah bagian dari puncak sebuah rantai makanan, mungkin kita harus mulai berpikir ulang. Karena konsep manusia sebagai bagian dari Circle of Life akan jauh lebih bijaksana dan lebih mampu menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik. Seperti kata Michael Jackson: If you wanna make a world, a better place, then you have to start to make a change!

Konsep perubahan inilah yang sepertinya yang coba digusung oleh kang Iyus. Menurutnya, selama ini kebudayaan orang Indonesia jaman dulu sudah sesuai dengan pola Green Thinking. Namun pola berpikir orang jaman sekarang yang cenderung lebih instan (karena kebanyakan makan mie) justru bertolak belakang dan secara perlahan menghancurkan ekosistem.

Baca juga:  Obor Desain - Episode #5 Desain & Musik Orkes

“Salah satu kesalahan kita terletak pada kalimat: Buanglah Sampah Pada Tempatnya! Sehingga apa yang tertanam pada pikiran adalah kebudayaan untuk membuang dan bukan untuk memanfaatkan,” ujar kang Iyus sambil nyeruput es lecy dengan wajah tegang sambil meraba-raba dompet, mungkin dia khawatir nggak bisa bayar. Dia lalu melirik kang Dodi yang mengangguk dengan tatapan: ‘aman kang, biar saya yang bayarin’.

Kang Iyus pun merasa lega dan kembali melanjutkan, “Coba istilah Buang itu diganti dengan kata Simpan. Hal itu akan memberikan dampak psikologis yang berbeda. Istilah yang sering saya gunakan adalah: Simpanlah Sampah Pada Tempatnya, Buatlah Sampah Menjadi Indah.”

Sehingga menurut pemaparan kang Iyus, Green Thinking sendiri lebih kepada masalah cara berpikir untuk  memanfaatkan sesuatu yang tidak terpakai menjadi terpakai kembali. Hal ini secara tidak langsung telah mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, dan ada banyak kebermanfaatan baru dari jenis sampah yang ditransformasi menjadi bentuk lain yang lebih bermanfaat.

Berkaitan dengan masalah transformasi sampah yang juga dikaitkan dengan Life Cycle analysis ini, kang Dodi memberikan sebuah pertanyaan yang sontak membuat kang Iyus gelagapan. Kelihatannya, seumur-umur jadi dosen dan peneliti, baru kali ini kang Iyus mendapatkan sebuah pertanyaan yang luar biasa dahsyat.

Baca juga:  Obor Desain - Episode #10 Desainer Event

“Kumaha lamun upil? Gimana caranya upil sebagai sesuatu yang bermanfaat lagi?” tanya kang Dodi sambil batuk-batuk, minum jus jeruk, lalu ngupil dan memperlihatkan upilnya pada kang Iyus.

Kang Iyus menatap upil yang diberikan kang Dodi sambil berpikir keras sambil menghubungkan beberapa konsep seperti Sustainable Design, Analisis SWOT, Rumus Pitagoras, Algoritma Bubble Sort dan Waterfall Analysis. Hasilnya ketemu,

“Mungkin upil bisa dijadikan makanan ringan.”

WHAAA~~

Jangan dibayanginlah. Nggak penting banget lah pembahasannya.

Lebih lanjut, kang Iyus menyatakan jika saat ini Indonesia menyandang peringkat ke 2 dunia sebagai negara yang paling sering membuang sampah ke laut. Keren? Tentu tidak. Ini justru semakin menunjukkan jika hampir 90% masyarakat Indonesia masih suka nyampah sembarangan.

“Anehnya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, justru tingkat pemahaman dan kesadarannya akan sampah semakin berkurang,” tambahnya. “Coba aja perhatiin. Saya mah udah paling geuleuh kalau ada orang buang sampah dari dalam mobil. Bukannya di mobil seharusnya ada tempat sampah? Terus kenapa dia malah buang sampah di jalan? Emangnya jalan teh tempat sampah!!! Sok kadieu lah! Mana jelemana anu sok buang sampah di jalan!”

Tenang kang, tenang. Jangan terbawa esmosi, hehehe.

Menyoroti kembali pola pikir orang Indonesia jaman dulu, memang ada banyak hal yang menarik dan sangat berbeda dengan kondisi masyarakat sekarang.

Baca juga:  Obor Desain - Episode Tamu Hebart #5 Motorcycle Community Symbol

“Dulu alas makanan menggunakan daun pisang, kalau dibuang pun, daun pisang itu akan terurai. Mainan jaman dulu sudah green juga terhadap alam. Termasuk alat musik dan desain rumah, misalnya rumah panggung yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga anti gempa,” paparnya. “Sehingga budaya orang tradisional Indonesia jaman dahulu sudah jauh lebih green ketimbang orang Indonesia jaman sekarang. Faktor budayanya sudah sangat berbeda.”

Saat ini kang Iyus sedang kurang kerjaan dan mencoba meneliti sampah plastik untuk pemakaian di kampus dalam 1 minggu hanya untuk 1 jurusan. Hasilnya luar biasa. Hanya dalam kurun waktu sependek itu, jumlah sampah yang dihasilkan bisa mencapai 1 kubik. Kalikan saja jumlah itu dengan seluruh jurusan di kampus  tersebut, lalu dikalikan dengan jumlah kampus di Bandung. Hanya dalam 1 minggu berapa ton sampah plastik yang bisa dihasilkan?

Masalah sampah ini adalah masalah klise bin klasik yang sayangnya sampai saat ini belum ditemukan solusi yang pas untuk mengatasinya. Meski support dari pemerintah sudah ada, namun tanpa dukungan dari semua pihak dan kesadaran dari masyarakat, maka masalah sampah akan terus menjadi salah satu masalah terbesar di Indonesia.

Salut terus untuk kang Iyus dengan Green Thinking-nya. Semoga apa yang diusahakan dapat menjadi ispirasi dari banyak pihak. Mulailah ganti kalimat: “Buanglah Sampah Pada Tempatnya” dengan kalimat kang Iyus ini.

Simpan Sampah Pada Tempatnya, Dan Buatlah Sampah Itu Menjadi Indah

Bagi anda yang ingin menyaksikan video lebih lengkapnya, klik tautan berikut

Loading...


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares