Review Logan: Fakta Menarik Tentang The Wolverine

Film ini sadis. Asli. Berbeda dengan debut Wolverine pada tahun 2000 silam di film X-Men yang terlihat masih tampak malu-malu, Logan di film ini benar-benar telah menjadi Wolverine yang sebenarnya. Pemberian rating R untuk film ini, yang berarti film ini nggak pantas ditonton sama anak kecil karena ada (cukup banyak) adegan brutal berdarah-darah dan kata-kata kasar, memang tidak salah disematkan pada film Logan. Bagi sebagian orang, film ini memang akan terlihat terlalu sadis. Sementara sebagian lainnya, terutama para penggemar Wolverine pasti akan berkata, memang beginilah seharusnya Wolverine beraksi.

Film ini juga mendapatkan rating 93% di Rotten Tomattoes, suatu angka yang terbilang langka bagi sebuah film bergenre super hero. Sebagian pengamat mengatakan jika film Logan merupakan kado perpisahan yang sangat luar biasa dari Hugh Jackman yang telah memerankan tokoh ini selama 17 tahun. Good Job, Jackman!

Review Logan

Film Logan berkisah tentang Logan a.k.a Wolverine yang mulai menua dan kehilangan kekuatannya. Bersama-sama dengan Profesor X mereka mencoba bertahan hidup dari manusia yang mencoba memburu mereka. Situasi menjadi membingungkan ketika muncul seorang anak misterius bernama Laura, seorang mutant, yang memiliki kekuatan yang mirip dengan Logan. Pertarungan, pengejaran, dan usaha mempertahankan diri menjadi inti utama cerita yang penuh konflik dan sangat kental dengan bumbu drama yang mampu mengaduk-ngaduk emosi.

Baca juga:  Fakta Unik Satria Heroes Bima-X: Revenge Of Darkness 2017

x23-in-logan-1

Sejak pertama kali muncul dalam film X-Men yang memiliki rating T untuk remaja, telah banyak pihak yang menyayangkan pertarungan Wolverine yang terkesan ‘biasa-biasa saja’. Sequel demi sequel dibuat, dan sebagian besar fans Wolverine berharap agar Wolverine dapat ditampilkan lebih sangar dan brutal. Kenapa? Karena Wolverine adalah Wolverine. Dia adalah seekor serigala kesepian yang seharusnya tidak terikat dengan tanggung jawab apa pun. Dan untuk itu, jika dia harus berkelahi pun, yah dia seharusnya tidak perlu memikirkan moral apa pun.

x-men-2-wolverine

Membandingkan pertarungan Wolverine di film X-Men dan Logan seperti membandingkan film Spiderman dan Deadpool. Sama-sama film super hero, sama-sama menggunakan cakar, namun efek yang disajikan jauh lebih brutal dan penuh darah. Dan bukan hanya sisi brutal yang ditonjolkan, namun juga faktor emosi yang menjadi pemicu kenapa kemarahan itu harus muncul. Hal inilah yang sukses ditampilkan dalam film Logan. Logan bukan mesin pembunuh yang akan memutilasi manusia tanpa sebab. Dia hanya seekor serigala yang ingin sendirian. Jika kamu mengganggunya, nah bersiaplah untuk menyesal.

Baca juga:  Review Power Ranger 2017

Dengan pendapatan box office 85 juta dalam 3 hari pertama, rasanya tidak salah jika film Logan disebut-sebut sebagai film terbaik Hugh Jackman sebagai Wolverine. Penuh drama, penuh emosi, dengan sedikit bumbu superhero yang masih terasa. Loh? Bingung kan? Karena alih-alih disebut sebagai film superhero, film ini lebih cocok disebut sebuah film action. Superhero hanyalah bumbu untuk latar belakang dan seting para karakternya. Lupakan soal penjahat yang menyerang kota dan seorang superhero yang datang ujug-ujug dan cling menyelamatkan seluruh penduduk. Film Logan bukan film tentang itu. Film ini tentang seekor serigala yang menua namun masih memililki kekuatan yang tersisa untuk mencabik-cabik seluruh mangsanya.

Mungkin banyak yang tidak tahu jika film Logan ini bersumber dari komik Old Man Logan yang digarap oleh Mark Milliar dan Steve McNiven. Dalam Old Man Logan diceritakan bahwa seluruh ras mutant, khususnya tim X-Men ‘tewas’ di tangan Logan. Hal ini dikarenakan serangan ilusi yang dilancarkan oleh seorang mutant bernama Mysterio. Ilusi itu mengakibatkan Logan mengira jika telah ada sebuah serangan terhadap mansion tempat anak-anak mutant bernaung. Demi melindungi mereka, Logan pun membunuh semua mutant penyerangnya. Tanpa ia sadari jika semua serangan itu tak pernah ada, Logan ternyata malah membunuh semua mutant teman-temannya. Dengan plot ‘sekejam’ itu bisa dibayangkan bagaimana hancurnya perasaan Logan sehingga akhirnya memilih untuk menyendiri, menjauh dari siapa pun, untuk melindungi siapa saja dari: cakar-cakar jahatnya.

Baca juga:  Star Wars - The Last Jedi

250px-OldManLogan

Dalam film Logan, plot itu tidak digunakan. Para pembunuh mutant lainnya adalah Profesor X. Logan membawa Profesor sejauh-jauhnya ke ujung dunia untuk menyelamatkan orang-orang dari kekuatan pikirannya. Sedikit berbeda, tapi nggak beda jauh. Overall, dengan plot yang kental dengan drama ini, sebagian orang merasa sangat kecewa. Sementara sebagian lagi malah memuji film ini sebagai film yang luar biasa. Setiap orang punya pilihan dan setiap orang punya selera. Kalau menurut kamu gimana?



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares