Review The Mummy: Pembuka Franchise Dark Universe Yang Mengecewakan?

Mengecewakan! Setidaknya itulah kesimpulan para kiritkus dari film terbaru Tom Cruise, The Mummy, yang baru beberapa hari ditayangkan di Bioskop. Beberapa mengatakan jika The Mummy adalah film Tom Cruise terburuk sepanjang karirnya. Bukan berarti akting Tom Cruise buruk, hanya saja dia terlibat dalam sebuah film yang berkualitas buruk.

Rotten Tomato bahkan ‘hanya’ memberikan nilai 21% dengan mengatakan jika film ini gagal dalam menjadi sebuah entry point untuk sebuah franchise baru (Dark Universe) dan juga tak mampu menghadirkan nuansa kelam dan menyeramkan untuk ukuran sekelas film horor-action.

Tidak bisa dipungkiri jika ganjalan terbesar film The Mummy-nya Tom Cruise adalah film The Mummy-nya Brendan Fraser. Meski telah berlalu hampir lebih dari 17 tahun, film bernuansa Mesir Kuno arahan Stephen Sommers ini sukses membawa nuansa Mummy seperti layaknya… sebuah Mummy.

Bukan hanya sekedar menampilkan potongan-potongan adegan seram, namun kombinasi dari inti cerita yang digunakan, konflik antar tokoh, serta seting yang digunakan terasa menyatu membentuk satu franchise yang sempurna.

Apa yang dilakukan Sommers, memang berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Alex Kurztman ini.

Review The Mummy

Selain karena The Mummy sendiri merupakan ‘proyek panjang’ Universal untuk membuat franchise Dark Universe, film ini memiliki komposisi yang blepotan antara aksi, narasi dan penjelasan lain yang sepertinya memang sengaja dikait-kaitkan agar nyambung dengan Dark Universe.

Hasilnya, keseluruhan film terasa campur aduk dan ‘agak sulit untuk dinikmati’ sebagai sebuah film mandiri.

The Mummy tampak lebih seperti sebuah film action ketimbang film monster. Meski ide menggunakan mummy perempuan ini adalah sebuah ide brilian yang patut di apresiasi. Ahmanet mungkin adalah salah satu hal terbaik yang bisa dimunculkan oleh film ini.

Kembali ke masalah hal-hal yang menyeramkan khas film monster. Keunggulan dari sebuah film seram adalah mampu melakukan manipulasi persepsi dan imajinasi penonton. Bukan hanya adegan jumpscare picisan. Dan untuk membuat adegan seperti ini tidak memerlukan teknk CGI yang berlebihan.

Ada yang yang masih ingat dengan serangga-serangga hitam kecil yang mampu menyusup masuk ke dalam tubuh, berlari dalam daging, dan terus melesak masuk ke dalam jantung, perut, dan wajah seseorang? Sangat menyeramkan bukan?

Dalam The Mummy, kemunculan Russel Crowe bahkan menjadi suatu masalah besar. Bukan hanya fokus terhadap cerita menjadi sedikit terganggu tetapi karena ada terlalu banyak tambahan ‘misteri’ yang belum bisa diungkap sekarang.

Kekecewaan terbesar film The Mummy adalah terletak pada anti-klimaks pertarungan protagonis dan antagonisnya, Ahmanet. Padahal dengan suasana yang telah dibangun sedemikian dahsyat, penonton tentunya mengharapkan suatu ending yang super epik dan bukan ending yang ‘begitu saja’.

Anyway, terlepas dari kekurangannya dan nilai dari para kritikus film yang jeblok, The Mummy merupakan awal yang baru dari sebuah franchise yang menurut saya memiliki prospek besar untuk menjadi luar biasa. Kapan lagi bisa melihat para monster klasik bergabung dalam satu layar?

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares