Semangat Membangun Fiksi Fantasy Dalam Negeri Ala Irene Faye

Ada dua hal yang menjadi kesamaan antara saya dan mbak Irene. Yang pertama adalah kami sama-sama jebolan Fantasy Fiesta, yaitu suatu perlombaan cerpen fiksi fantasi yang dirintis oleh RD. Villam. Berawal dari lomba  cerpen inilah, beberapa nama mulai bermunculan dan meniti karir kepenulisan profesionalnya dengan caranya masing-masing.

Yang kedua, kami sama-sama penggemar Rick Riordan. Penulis kisah Percy Jackson dan dewa-dewa Olympus yang fenomenal. Gaung Percy memang tidak sedahsyat Harry Potter di dunia film, namun di dunia kepenulis, buku-buku Riordan selalu mendominasi best seller.

Kalau saya pikir-pikir lagi, rasanya itulah salah satu alasan kenapa pada tahun 2010 saya memilih nama pena ini. Biar disangka sodara atau kerabatnya Rick Riordan. Walau pun faktanya, kami berdua ini beda bapak, beda ibu dan beda pembantu.

Kembali ke sosok Irene Faye yang misterius. Siapakah dia sebenarnya? Irene Faye itu nama pena. Nama aslinya… kasih tahu nggak ya? Well, ada banyak hal pribadi soal mbak Irene yang tidak akan saya bahas di sini. Khususnya alamat rumah pribadi, ukuran sepatu dan kisah cintanya yang super komplikasi dan konspirasi. *Eh?

Secara silsilah dalam dunia fiksi fantasi Indonesia, Irene bisa dibilang merupakan adik saya. Namun sepak terjangnya dalam dunia literasi jauh dari apa yang pernah saya capai. Beberapa karyanya dirilis di Wattpad dan telah dibaca oleh lebih dari 10 ribu orang. Satu hal yang menunjukkan jika Irene Faye telah memilik fan base yang luar biasa di ranah digital.

Salah satu karyanya yang berhasil mencuri perhatian publik di platform Wattpad adalah The Healer. Kisah tentang seorang tabib bernama Darien Otoniel Plouton yang merasa muak dengan kehidupan di kota besar, Ia lalu memutuskan untuk menerima panggilan dari Morbos, desa terpencil yang terletak di pulau Vitum. Pulau yang bahkan keberadaannya pun tak dapat ia lihat dengan mata telanjang dari kota kelahirannya. Di pulau itulah berbagai kejadian menarik dan konflik penting terjadi pada dirinya.

Selain itu mbak Irene juga aktif mengadakan seminar tentang kepenulisan dan memberikan beberapa tips tentang kepenulisan fiksi, khususnya genre fantasi. Hal itulah yang kemudian membuat saya iseng untuk mewawancarinya.

Sekedar ingin mencari tahu, apa yang menyebabkan dara manis ini terperosok ke lembah dunia fiksi fantasi yang dipenuhi monster-monster kejam dan para penyihir yang haus jus labu. Apalagi saat ini, gaung dunia fiksi fantasi Indonesia masih kurang kenceng dibanding dengan buku-buku impor.

Mbak Irene ternyata suka membaca sejak kecil dan baru mulai tertarik menulis di dunia fiksi sejak kelas 2-3 SMP. Jadi sekitar… aduh, tahunnya mesti disensor nih kayaknya, hahaha. Sebagai penulis pemula, mbak Irene mengaku jika kesulitan terbesarnya adalah menyelesaikan sebuah cerita dari awal sampai akhir.

Gaya kepenulisannya sendiri, saat ini, masih dipengaruhi oleh gaya penulis dari para penerjemah buku impor. Kenapa? Karena mbak Irene mengalami kesulitan dalam berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dia lebih fasih dalam berbahasa Inggris, sehingga dalam kepenulisan fiksi, mbak Irene harus melalui 2 kali proses penerjemahan kata dari Inggris ke Indonesia.

Rada ribet memang. Tapi itu bukan penghalang utama. Passion yang kuat di dunia fiksi fantasi telah membuat mbak Irene membulatkan tekadnya untuk morotin kakaknya beliin satu box set Percy Jackson versi Inggris. Loh? Maksudnya, mbak Irene membulatkan tekadnya untuk berkiprah di dunia fiksi fantasi Indonesia.

“Saya merasa sangat optimis dengan pasar fantasi di Indonesia. Saat ini mungkin kelihatannya tidak stabil dan peminatnya sedikit, tapi bukan berarti peminatnya tidak ada sama sekali!! Yang penting, tetap dan teruslah. Jika Writers Block menyerang, kurangi distraksi dan paksa diri untuk menulis apa saja!” ujarnya penuh semangat dan berapi-api.

First Rule of Writing: 1st Draft is ALWAYS Suck

“Naskah awal itu selalu yang paling ancur. Hmmm … biar saya beri tahu satu cerita. Saya sudah menulis rasanya karena sejak saya berumur 13 tahun, dan saya hanya nulis di buku tulis. Gak ada wattpad, gak ada komunitas penulis. Gak ada facebook, bahkan friendster pun dulu gak ada.

“Hanya ada chatroom, dan saya gak punya laptop (saya baru punya laptop menjelang tahun pertama saya kuliah). Jadi waktu saya kelas 10 SMA, guru bahasa Indonesia saya liat kalau saya bawa-bawa binder tebal isi naskah cerita saya (jujur saya merasa sangat bangga dengan karya saya, karena semua orang yang ngebaca muji tulisan amburadul saya itu), dan nanya apa itu cerita tulisan saya? Saya ngangguk.

“Dan guru saya ini ternyata adalah penulis cerpen kompas senior (portofolio tulisan dia untuk cerpen kompas itu tebel banget–rasanya lebih dari 800 halaman, dan dia punya 3 portofolio). Jadi beliau nanya apa saya mau belajar nulis secara profesional, dan apa saya memang bercita-cita menjadi seorang novelis, dan saya langsung jawab iya dengan sangat-sangat antusias. Guru saya membaca cerita saya sekilas, tersenyum dan mengangguk.

“Ia meminjamkan saya 3 portofolio cerpen kompasnya, yang karena saat itu saya masih remaja ababil, benar-benar tidak menarik bagi saya. Sekarang kalau saya ingat-ingat lagi, tulisan guru saya itu benar-benar sangat bagus, kalau dibanding tulisan sampah saya. Saya tidak ingat jelasnya berapa lama sejak kejadian itu, guru saya datang masuk ke kelas dan menawarkan saya untuk bergabung dalam course Bengkel Sastra selama 1 bulan, dan beliau menjamin akan mengantar-jemput saya dari sekolah saya ke bengkel sastra (cukup jauh makan waktu perjalanan 1/2-1 jam).

“Saya ikut, dan di sana baru saya menyadari apa kunci dari menulis. Bagaimana membuat pembaca tertarik, dan sebagainya. Tapi yang menarik adalah saya bertemu dengan berbagai macam penulis lain dari sekolah-sekolah yang berbeda.”

Big Dream, Big Head Problem

“Jujur saja “saat itu” saya sangat-sangat besar kepala, karena saya adalah siswa paling muda, 15 tahun (?), anggota bengkel sastra saat itu berusia sekitar 17-18 tahun, dan sudah menulis lebih dari sekitar 30rb kata rasanya (yang lain hanya menulis cerpen). Tidak ada satu pun dari teman-teman se kelompok saya itu (bengkel sastra di bagi tiga area: prosa, puisi dan teater, saya di kelas prosa), yang sudah menulis cerita sepanjang yang saya tulis.

“Dan saya benar-benar ingin cerita saya dibaca oleh mereka. Tapi selama 1 bulan itu, saya hanya mendapat kesempatan menunjukkan tulisan saya itu di akhir sesi didikan dan saya ingat mungkin hanya ada 1 atau 2 orang membaca cerita saya, mereka suka, tapi saya rasa tanggapannya tidak seheboh teman-teman dekat saya yang suka membaca cerita saya, dan saya ingat saya sempat kecewa.

“Karena di usia 15 tahun saya yakin betul kalau saya adalah penulis berbakat. Dan mungkin–ini MUNGKIN yang sangat besar–saya memang berbakat. Tapi apa yang sekarang saya sadari adalah (setelah saya bertemu lebih banyak penulis, membaca lebih banyak cerita, dan belajar lebih dalam tentang Creative Writing), bakat tidak memegang peranan apa-apa dalam kepenulisan. Membantu sedikit mungkin (hanya sekitar kurang dari 10%), tapi sisanya adalah usaha dan kecakapan, dan kecakapan ini didapatkan dengan menulis berulang-ulang. Cerita saya yang saya tulis di binder itu sekarang hanya jadi bahan nostalgia, yang hampir terlupakan, karena sekarang saya bisa melihat dengan jelas betapa jelek naskah saya.

New Era Of Fiction Writing

“Cerita di binder itu adalah cerita pertama yang saya upload di wattpad dan kalau kalian adalah penulis baru di wattpad kalian tidak akan pernah tahu sejarah apa yang saya capai dengan cerita itu di wattpad–silahkan tanyakan pada user senior wattpad lain apa itu Raimazon.

“Cerita itu, walaupun memang sempat fenomenal di wattpad tidak pernah berakhir saya tulis secara penuh. Semakin banyak saya belajar tentang kepenulisan, semakin jelas saya dapat melihat kelemahan dari cerita itu, dan bahkan setelah saya merevisi ceritanya sebanyak lebih dari 6 kali, tidak pernah membuat saya, sebagai penulisnya, bahagia.

“Dan ini menyakitkan, karena di tahun 2013, bersamaan dengan keputusan final saya untuk mangambil hiatus, saya akhirnya memutuskan untuk menghentikan usaha saya untuk menulis cerita itu, dan menyimpannya untuk dipikirkan di kemudian waktu, saat saya rasa saya siap untuk melihat cerita itu lagi.

“Yang ingin saya katakan sebenarnya, dibalik cerita panjang saya ini, adalah, bahwa butuh waktu lama bagi saya secara pribadi untuk menyadari bahwa ego saya sebagai seorang penulis yang merasa dirinya berbakat untuk melihat kelemahan tulisan saya, dan saya benar-benar menghargai cara guru saya dalam menghadapi ego saya semasa remaja.

“Guru saya tidak secara terang-terangan memvonis cerita saya sebagai cerita jelek, atau sampah, tapi guru saya hanya tersenyum dan menyuruh saya membaca lebih banyak. Dan karena itu saya sampai sekarang sekalipun sampai saat ini belum berhasil menerbitkan “buku”–karena saya punya cerpen yang memang terbit, tidak menyerah untuk mencapai mimpi saya sebagai penulis. Apakah cerita kamu kurang bagus?

“Mungkin sekarang iya, tapi itu sama sekali bukan berarti bahwa cerita kamu tidak bisa dikembangkan, dan tidak punya potensi. Anak-anak dan remaja yang menemukan wattpad lebih cepat dari saya adalah orang-orang yang sangat beruntung, mereka tidak perlu berakhir seperti saya, yang tidak dapat dengan mudah mendapatkan akses ke materi-materi kepenulisan.

“Saya selama 10 tahun harus mengumpulkan materi-materi ini sendirian, tapi kalian lebih beruntung dari saya. Dan saya harap, kalian tidak membutuhkan waktu selama diri saya untuk membuat cerita yang bagus dan dapat dinikmati banyak pembaca.”

Super sekali mbak Irene! Sukses selalu untuk anda dan terima kasih banyak atas sharing berbagai ilmu dan tips seputar kepenulisan fiksi, khususnya genre fantasi. Sedikit tambahan, berikut ini adalah link untuk Jubah Mimpi Reve, karya mbak Irene di Fantasy Fiesta 2012.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares