Seminar WOW Komik di Exmo 14/15 Telkom University: Sinergi Komunitas dan Kolaborasi Industri Kreatif

Alhamdulillah. WOW Komik mendapatkan kesempatan lagi untuk menjadi pembicara di sebuah event kreatif. Kali ini, tim WOW Komik berkesempatan mengisi di acara Exmo 14/15 yang diselenggarakan oleh Telkom University. Event ini merupakan event tahunan yang menjadi wadah bagi para mahasiswa Telkom University, khususnya jurusan DKV untuk mempertunjukkan karya-karya terbaik mereka.

IMG20170322174017

Beberapa karya terbaik yang dipamerkan pada event di antaranya ada beberapa foto serta sekumpulan ilustrasi keren karya Bima Sakti. Salah satu karyanya yang paling menarik perhatian saya adalah karyanya yang berjudul Dayak Shaman. Wow! Ini keren bingit.

IMG20170322174000

Selain itu terdapat juga kostum ala Sir Lancelot yang saya lupa apa namanya. Sepintas, kostum ini tampak mengkilat seperti terbuat dari besi. Saat coba saya sentuh, eh ternyata emoy, rupanya hanya terbuat dari karet. Bisaan euy yang bikinnya.

IMG20170322130339

Buka Lapak WOW Komik

Acara yang akan diisi oleh tim WOW Komik ini dijadwalkan pada pukul 16.00. Namun saya memaksakan diri untuk datang duluan karena ada hal penting yang harus saya lakukan di sana. Apa itu? Buka lapak! Saya sendiri menganggap acara Exmo merupakan salah satu acara yang penting bagi WOW Komik sebagai bagian dari Road Show to Pakoban 2017.

IMG20170322130348

Atas kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada kang Irvan yang telah memberikan kesempatan kepada tim WOW Komik untuk berpartisipasi dan mbak-mbak panitia yang sudah mau direpotin sama berbagai requestnya tim WOW Komik.

IMG20170322174033

Seharusnya yang bertugas untuk jaga stand ini adalah anak-anak studio. Namun berhubung ada deadline dari klien yang harus diselesaikan, dan kebetulan klien ini merupakan prioritas tertinggi studio, maka semua perhatian tim tertuju pada penyelesaian deadline.

Saya nggak bawa banyak buku. Cuma 10 renceng alias 100 eksemplar buku. Toh, para pengunjung di event ini bukanlah masyrakat penggemar komik. Jadi setidaknya terjual 20-30 buku saja sudah cukup bagus. Minimal, WOW Effect yang diberikan bisa mengena sekaligus menjadi pemancing untuk mendatangi event Pakoban pada bulan Mei mendatang.

Baca juga:  Wow Komik: Komik Urang Bandung Go Internasional!

Alhamdulillah respon yang didapat sangat luar biasa. Menjelang pulang sekitar maghrib, sekitar 70 eksemplar WOW Komik telah habis terjual. Itu berarti hanya dalam kurun waktu 4 jam, lebih dari separuh komik yang dibawa telah berpindah tangan. Sekali lagi, ini pertanda baik karena pengunjung yang datang bukan berasal dari penggemar komik dan event ini adalah event pameran bukan event khusus untuk buka lapak.

17495630_10212662862985637_2032197244_n

Dan dari seluruh komik yang terjual kemarin, komik Detective Khan SOLD OUT! Nggak bener-bener sold out sih sebenernya, nyisa 2 biji. Bahkan beberapa pengunjung sampai ada yang menanyakan mana Edisi 2 nya? Mungkin mereka penasaran dengan Misteri Kucing Mata Satu kali ya? Hehehe. Pokoknya bagi saya pribadi event Exmo kemarin sangat Ruarrr biasa!

WOW - Detective Khan 01

Seminar Sinergi & Kolaborasi

Satu jam yang padat bersama WOW Komik. Kira-kira seperti itulah acara kemarin. Karena hanya dalam waktu satu jam saya harus berbagai stage dengan kang Ucup yang datang rada telat karena baru mandi. Waktunya kurang? Jelas kurang. Bagi saya atau kang Ucup yang terbiasa jadi pembicara, kami bisa menggunakan waktu 2-3 jam sendirian. Jadi saya harus rada ngebut untuk membawakan materi seminarnya sebelum masuk ke dalam sesi Talk Show.

Salah satu materi paparan yang menarik dan sukses memancing perhatian pengunjung (dan juga panitia) adalah materi soal The Astrajingga.

Banner

Bagi anda yang belum tahu, The Astrajingga adalah proyek novel Wayang Komedi yang saya mulai tahun 2013 silam bersama kang Dennis Saputra. Alhamdulillah naskah itu sudah sukses ditolak oleh 2 penerbit mayor (Mizan dan Gramedia)

Baca juga:  Siap-siap! Pakoban 6 Akan Digelar. Hitung Mundur Dimulai!

IMG20170322150748

Bukan karena naskahnya jelek sih, tapi karena pihak penerbit tidak memiliki lini yang pas untuk menerbitkan buku semacam itu. Bahkan Gramedia menyarankan agar The Astrajingga dibuatkan saja versi komiknya, saking serunya adegan pertarungan yang disajikan. Kalau bicara soal komik mah memang iya. Fokus ke arah sana memang sudah ada.

4050a622-4264-4d5c-9b60-c8b40641f06d

Tapi sebagai penggiat dan pelaku industri kreatif berbasis Transmedia, saya tetap berharap jika novel The Astrajingga bisa diterbitkan. Kenapa? Namanya juga Transmedia. Satu konten disebar ke dalam berbagai platform dan media.

Bagaimana pun membaca novel dan membaca komik akan memiliki pengalaman yang berbeda. Sehingga secara teori, jika sebuah konten/IP dipublikasikan ke dalam media yang berbeda, maka potensi penjualannya akan meningkat karena segmen pasar yang dituju pun akan menjadi lebih luas. Tapi itu mah teori sih. Masalah prakteknya mungkin pihak penerbit dan tim marketingnya yang lebih paham.

Yang jelas, saya merasa cukup senang karena teman-teman DKV tampaknya sangat menikmati pemaparan tentang naskah The Astrajingga yang telah ditolak ini.

Proses Adalah Kerja Keras

Kang Ucup datang belakangan, padahal semestinya dialah yang paparan terlebih dahulu. Untung rumahnya deket jadi bisa langsung capcus. Tidak banyak yang dipaparkan oleh kang Ucup selain kisah masa lalunya yang kelam dalam dunia ilustrasi Indonesia pada masa-masa kegelapan. Kala itu, bekerja sebagai buruh tinta rasanya adalah sebuah pekerjaan yang jauh dari kata mapan.

16788870_1645509559078621_7867187678796578816_n

Paparan puncak kang Ucup bercerita tentang proyek barunya bersama penerbit 451 asal New York. Khas penamaan luar negeri, kang Ucup yang punya nama lengkap Yusuf Idris hanya ditulis “Idris” saja pada bagian siluet promo-cover. Kang Ucup memang tidak terkenal di Indonesia, tapi di luar negeri sono, namanya mulai menanjak sebagai salah satu ilustrator profesional kelas dunia.

Baca juga:  Wow Komik! Komik Berkualitas Internasional Dengan Harga Terjangkau!

Meski diakui sendiri oleh kang Ucup jika salary yang didapatkannya saat bekerja di luar negeri justru jauh lebih kecil daripada di Indonesia. Untuk penerbit lokal saja, honor untuk menggambar 1 halaman berkisar di antara Rp. 250-300 ribu rupiah. Untuk ilustrator kawakan yah, mungkin bisa sampai Rp. 500-750 ribu rupiah. Sedangkan honor yang diterima kang Ucup selaku ilustrator ternyata hanya 120 saja per halaman.

Kecil? Memang. Masalahnya kursnya beda.

Dan satu kunci penting dari paparan kang Ucup adalah jangan keseringan makan mie instant. Sebuah proses untuk mencapai hasil yang lebih baik harus melalui tahap kerja keras. Dalam hal ini, disiplin, berlatih dan terus meningkatkan skill adalah bentuk proses yang harus dilalui untuk mencapai titik kesuksesan tertentu. Tidak ada yang namanya instant. Kecuali mie. Semua itu butuh proses. Dan proses itu adalah kerja keras.

Bajaj Bajuri

Terakhir, saya mendapat info menarik jika Telkom University, diwakili oleh teman-teman mahasiswa DKV juga, dalam waktu dekat akan mengadakan even Bajaj Bajuri…, eh, bukan ini sih nama evennya, tapi Nihon… Nihon… apa gitu. Semacam event jejepangan yang akan diselenggarakan pada akhir bulan April mendatang.

bajaj

Nah, kesempatan ini pun sepertinya tidak akan saya sia-siakan. Tim WOW Komik sudah berkoordinasi dan memastikan untuk menghadiri even besar tersebut. Insya Allah. Apalagi mengingat jika event ini hanya sekitar 2 minggu sebelum even Pakoban digelar. Mulai panas nih.

Akhir kata, sukses terus buat seluruh rekan-rekan mahasiswa DKV, dan Telkom University. Semoga Sinergi Komunitas dan Kolaborasi Pelaku Industri Kreatif ini benar-benar bisa terwujud sebagai pondasi awal kemandirian Industri Kreatif Indonesia.

Ayo kita WOW-kan!



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares